Namaku
Alya Raissa, aku biasa dipanggil Alra. Aku punya kakak namanya Denisa Alraissa.
Panggil aja kak Raissa. Beda umur kami hanya 2 tahun. Sekarang aku kelas 3 SMP
sedangkan kak Raissa kelas 2 SMA. Dia selalu jadi kakak yang baik dan teman
curhat yang baik saat dirumah , walau kadang juga ngeselin.
Biasanya,
aku dan kak Raissa berangkat bareng, tapi hari ini lagi enggak. Karena kak
Raissa harus berangkat pagi-pagi sekali karena ada piket pagi, dan dia bawa
kendaraan sendiri. Dia juga nanti bakalan pulang telat, yang aslinya jam 3 jadi
jam 4 karena ada tugas kelompok. “Dek, kakak berangkat duluan ya, kamu mau
bareng nggak?” Tanya kak Raissa.
“Enggak
deh kak, masih kepagian.” Jawabku sambil melirik kearah jam tangan yang sedang
kupakai, masih menunjukkan pukul 05.30
“Oke,
kakak berangkat dulu ya, kamu nanti pulang jam berapa? Barangkali kakak bisa
jemput kamu disekolah. Terus nanti sekalian ke mall bareng temen-temen kakak.” Tanya
kak Raissa lagi.
“Kisaran
jam setengah lima mungkin kak.” Jawabku singkat.
“Okede”
sahut kakak, lalu pamit ke mama dan papa. “Ma, Pa, Raissa berangkat dulu ya,
Raissa sayang mama dan papa. Assalamualaikum.”
“Waalaikum
salam.” Jawab aku, mama dan papa. Walaupun kak Raissa nggak ngucapin salam ke
aku, tapi tetap saja aku harus membalasnya, karena menjawab salam itu wajib. Nggak
biasanya juga kak Raissa bilang ‘aku sayang mama dan papa’ biasanya dia
langsung pergi gitu aja. Sudahlah biarkan.
Kemudian
aku diantar papa naik mobil sambil sekalian papa berangkat kerja. “Pa, nggak
biasanya ya kak Raissa bilang ‘Aku sayang mama dan papa’?” ujarku.
“Ya
lebih bagus kan dek?” seru papa.
Aku
hanya tersenyum membalas ucapan papa, tapi tetap saja, perasaanku agak nggak
enak.
Sesampaiku
disekolah, aku baru ingat kalau aku belum mengerjakan pr biologi yang dikasih
Miss Helina minggu kemarin. Ah semoga nanti Miss Helina ada acara atau apa gitu
pokoknya sibuk deh dan nggak masuk kelas.
Ternyata
doaku terkabulkan. Hari ini Miss Helina sedang ada tugas ke luar kota, jadi
tugasnya nggak dikumpulin hari ini, tapi minggu depan. Daripada aku nggak ngapa-ngapain
jadi aku gunakan jam kosong ini untuk tidur.
Saat
aku tertidur, aku bermimpi hal menyeramkan. Aku bermimpi, kak Raissa ditabrak
mobil ketika menyeberang jalan, dan kepalanya berdarah. Aku takut, karena mimpi
itu seperti kenyataan. Tak lama kemudian akhirnya aku berhasil terbangun dari
mimpi burukku itu.
“Semoga
nggak kejadian beneran, semoga enggak. Amin.” Gumamku.
Saat
pulang sekolah, aku mengirim sms ke kak Raissa kalau aku pulang jam 4. Nggak jadi
setengah 5, karena hari ini ada rapat guru satu sekolah. Aku menunggu kak
Raissa nyaris setengah jam, padahal kak Raissa sudah membalas pesan yang aku
kirim ke dia. Tapi aku masih sabar menunggu. Hingga akhirnya aku lihat jam, jam
menunjukkan pukul 5 sore. Tapi kak Raissa juga tak kunjung datang. Tetapi didepan
sekolah aku lihat sepertinya itu mobil papa. Kok jadi papa yang jemput aku?
Aku
berlari menuju mobil papa. Dengan segera aku masuk kedalamnya, “Lho pa, kok
papa yang jemput? Kak Raissa mana?” Tanyaku gelisah.
“Sudah
ayo naik, ikut papa ke suatu tempat.” Jawab papa. Tetapi dengan jawaban papa
yang seperti itu, membuatku makin gelisah. Aku masuk kedalam mobil, lalu papa
menancap gas dengan kecepatan yang tak pernah papa buat sebelumnya.
“Pa,
kok ngebut amat sih? Ada apa emangnya?” Tanyaku heran.
“Nggak
ada apa-apa. Papa cumin ingin ngebut aja.” Jawab papa singkat.
Tak
lama kemudian, papa berhenti dan memasuki lapangan parkir rumah sakit Angkasa, “Pa,
siapa yang sakit? Kok ke rumah sakit?” tanyaku bingung.
Papa
menghela nafas, lalu menjawab pertanyaanku, “Sudah, ikut papa aja.”
Kemudian
aku mengikuti papa memasuki daerah ruang inap mawar. “Pa, siapa sih pa yang
sakit?” tanyaku dengan sedikit menghertak. Tapi papa tak menjawab. Kemudian ada
suster yang lewat, kemudian papa tanya sesuatu ke suster tersebut. “Sus, pasien
yang bernama Denisa Alraissa dipindahkan diruang mana ya?” tanya papa ke suster
tersebut. Seketika aku langsung shock. “Pa? KAK RAISSA SAKIT APA PA?” tanya ku
dengan bentakan keras.
Papa
menghela nafas, lalu menjawab, “Tadi kakakmu di tabrak mobil waktu mau jemput
kamu. Dia naik sepeda motor sama temannya, tetapi temannya nggak kenapa-kenapa,
cumin kakakmu aja yang sakit.”
Aku
langsung diam tak bersuara, ternyata itu alasan kak Raissa tak kunjung datang
hingga satu jam lamanya. Aku sedih, bingung,juga ketakutan. Semuanya nggak
jelas. Kemudian aku ikut papa ke ruang ICU. Kak Raissa dipindahkan ke ruang ICU,
karena dia koma. Dan dia koma selama 2 bulan. Selama dia koma, aku merasa
kesepian.
Tak
lama setelah ia sadar dan sudah bisa bercanda denganku, papa, mama dan
teman-teman yang menjenguknya, ternyata ada gangguan di kedua ginjalnya. Jika,
kerusakan tersebut tidak segera ditangani, kak Raissa bisa saja meninggal. Dan kak
Raissa membutuhkan cangkok ginjal.
Dokter
menyarankan papa untuk mencari donor ginjal yang pas untuk kak Raissa, tetapi
setelah papa keliling ke ratusan rumah sakit, ternyata papa tak juga
mendapatkan ginjal yang pas untuk kak Raissa, akhirnya ginjal papa dan mama
diperiksa untuk dicocokkan dengan ginjal kak Raissa. Tetapi ternyata ginjal
mereka nggak cocok dengan punya kak Raissa.
Kemudian
aku terlintas sebuah ide. Aku nggak mau kehilangan kak Raissa, tanpa kak Raissa
dirumah, rasanya hampa, rumahku terasa seperti rumah hantu tak berpenghuni
tanpa canda tawa kak Raissa. Aku mengusulkan ke papa, agar ginjalku saja yang
didonorkan ke kak Raissa. Tapi seketika itu papa dan mama langsung memarahiku. Tetapi
aku tetap memohon agar dibolehkan. Jawabannya tetap sama, “TIDAK!!!” dengan
tanda seru yang banyak.
“Kamu
tau akibatnya punya satu ginjal saja? Nggak enak. Papa sama mama nggak mau
kalau papa dan mama punya dua anak yang ginjalnya cuman satu. Sedih nak, sedih.”
Nasehat papa.
“Tapi
papa sama mama lebih nggak mau kalau papa sama mama kehilangan kak Raissa kan? Lebih
baik ginjal aku aja yang didonorin buat kak Raissa. Pa, aku juga nggak mau
kehilangan kak Raissa.”
Tetapi
papa tetap saja bilang tidak bisa.
Malam
hari tiba, dirumah aku sendirian, karena papa sama mama menemani kak Raissa
dirumah sakit. Dokter memvonis kak Raissa, jika kak Raissa tidak segera
mendapatkan donor ginjal dalam kurun waktu 7 hari, maka bisa jadi kak Raissa
akan meninggal.
Karena
aku tak mau kejadian tersebut terjadi dengan kak Raissa, akhirnya diam-diam aku
izin ke dokter untuk mengetes kecocokan ginjalku dengan kak Raissa, ternyata
hasilnya cocok. Akhirnya kak Raissa mendapatkan donor ginjal. Tetapi dokter
tidak bilang siapa yang mendonorkan ginjal tersebut ke papa ataupun mama,
karena aku takut mereka memarahiku.
Operasi
berjalan dengan lancar, akhirnya kak Raissa sembuh dalam kurun waktu 2 minggu,
aku ikut senang. Walau aku dan kak Raissa hanya hidup dengan satu ginjal,
tetapi kita tak akan pernah berhenti untuk saling menyayangi. Karena satu ginjal
milik kak Raissa adalah satu ginjal milikku. Hingga saat ini, papa dan mama
nggak tau kalau aku yang mendonorkan ginjal tersebut kepada kak Raissa, semoga
saja mereka nggak akan pernah tau, kalau aku yang mendonorkannya. Kalau tau,
mereka pasti akan memarahiku.
THE END
No comments:
Post a Comment