Monday, October 14, 2013

PAHITNYA HIDUP

Namaku Alya Raissa, aku biasa dipanggil Alra. Aku punya kakak namanya Denisa Alraissa. Panggil aja kak Raissa. Beda umur kami hanya 2 tahun. Sekarang aku kelas 3 SMP sedangkan kak Raissa kelas 2 SMA. Dia selalu jadi kakak yang baik dan teman curhat yang baik saat dirumah , walau kadang juga ngeselin.
Biasanya, aku dan kak Raissa berangkat bareng, tapi hari ini lagi enggak. Karena kak Raissa harus berangkat pagi-pagi sekali karena ada piket pagi, dan dia bawa kendaraan sendiri. Dia juga nanti bakalan pulang telat, yang aslinya jam 3 jadi jam 4 karena ada tugas kelompok. “Dek, kakak berangkat duluan ya, kamu mau bareng nggak?” Tanya kak Raissa.
“Enggak deh kak, masih kepagian.” Jawabku sambil melirik kearah jam tangan yang sedang kupakai, masih menunjukkan pukul 05.30
“Oke, kakak berangkat dulu ya, kamu nanti pulang jam berapa? Barangkali kakak bisa jemput kamu disekolah. Terus nanti sekalian ke mall bareng temen-temen kakak.” Tanya kak Raissa lagi.
“Kisaran jam setengah lima mungkin kak.” Jawabku singkat.
“Okede” sahut kakak, lalu pamit ke mama dan papa. “Ma, Pa, Raissa berangkat dulu ya, Raissa sayang mama dan papa. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.” Jawab aku, mama dan papa. Walaupun kak Raissa nggak ngucapin salam ke aku, tapi tetap saja aku harus membalasnya, karena menjawab salam itu wajib. Nggak biasanya juga kak Raissa bilang ‘aku sayang mama dan papa’ biasanya dia langsung pergi gitu aja. Sudahlah biarkan.
Kemudian aku diantar papa naik mobil sambil sekalian papa berangkat kerja. “Pa, nggak biasanya ya kak Raissa bilang ‘Aku sayang mama dan papa’?” ujarku.
“Ya lebih bagus kan dek?” seru papa.
Aku hanya tersenyum membalas ucapan papa, tapi tetap saja, perasaanku agak nggak enak.
Sesampaiku disekolah, aku baru ingat kalau aku belum mengerjakan pr biologi yang dikasih Miss Helina minggu kemarin. Ah semoga nanti Miss Helina ada acara atau apa gitu pokoknya sibuk deh dan nggak masuk kelas.
Ternyata doaku terkabulkan. Hari ini Miss Helina sedang ada tugas ke luar kota, jadi tugasnya nggak dikumpulin hari ini, tapi minggu depan. Daripada aku nggak ngapa-ngapain jadi aku gunakan jam kosong ini untuk tidur.
Saat aku tertidur, aku bermimpi hal menyeramkan. Aku bermimpi, kak Raissa ditabrak mobil ketika menyeberang jalan, dan kepalanya berdarah. Aku takut, karena mimpi itu seperti kenyataan. Tak lama kemudian akhirnya aku berhasil terbangun dari mimpi burukku itu.
“Semoga nggak kejadian beneran, semoga enggak. Amin.” Gumamku.
Saat pulang sekolah, aku mengirim sms ke kak Raissa kalau aku pulang jam 4. Nggak jadi setengah 5, karena hari ini ada rapat guru satu sekolah. Aku menunggu kak Raissa nyaris setengah jam, padahal kak Raissa sudah membalas pesan yang aku kirim ke dia. Tapi aku masih sabar menunggu. Hingga akhirnya aku lihat jam, jam menunjukkan pukul 5 sore. Tapi kak Raissa juga tak kunjung datang. Tetapi didepan sekolah aku lihat sepertinya itu mobil papa. Kok jadi papa yang jemput aku?
Aku berlari menuju mobil papa. Dengan segera aku masuk kedalamnya, “Lho pa, kok papa yang jemput? Kak Raissa mana?” Tanyaku gelisah.
“Sudah ayo naik, ikut papa ke suatu tempat.” Jawab papa. Tetapi dengan jawaban papa yang seperti itu, membuatku makin gelisah. Aku masuk kedalam mobil, lalu papa menancap gas dengan kecepatan yang tak pernah papa buat sebelumnya.
“Pa, kok ngebut amat sih? Ada apa emangnya?” Tanyaku heran.
“Nggak ada apa-apa. Papa cumin ingin ngebut aja.” Jawab papa singkat.
Tak lama kemudian, papa berhenti dan memasuki lapangan parkir rumah sakit Angkasa, “Pa, siapa yang sakit? Kok ke rumah sakit?” tanyaku bingung.
Papa menghela nafas, lalu menjawab pertanyaanku, “Sudah, ikut papa aja.”
Kemudian aku mengikuti papa memasuki daerah ruang inap mawar. “Pa, siapa sih pa yang sakit?” tanyaku dengan sedikit menghertak. Tapi papa tak menjawab. Kemudian ada suster yang lewat, kemudian papa tanya sesuatu ke suster tersebut. “Sus, pasien yang bernama Denisa Alraissa dipindahkan diruang mana ya?” tanya papa ke suster tersebut. Seketika aku langsung shock. “Pa? KAK RAISSA SAKIT APA PA?” tanya ku dengan bentakan keras.
Papa menghela nafas, lalu menjawab, “Tadi kakakmu di tabrak mobil waktu mau jemput kamu. Dia naik sepeda motor sama temannya, tetapi temannya nggak kenapa-kenapa, cumin kakakmu aja yang sakit.”
Aku langsung diam tak bersuara, ternyata itu alasan kak Raissa tak kunjung datang hingga satu jam lamanya. Aku sedih, bingung,juga ketakutan. Semuanya nggak jelas. Kemudian aku ikut papa ke ruang ICU. Kak Raissa dipindahkan ke ruang ICU, karena dia koma. Dan dia koma selama 2 bulan. Selama dia koma, aku merasa kesepian.
Tak lama setelah ia sadar dan sudah bisa bercanda denganku, papa, mama dan teman-teman yang menjenguknya, ternyata ada gangguan di kedua ginjalnya. Jika, kerusakan tersebut tidak segera ditangani, kak Raissa bisa saja meninggal. Dan kak Raissa membutuhkan cangkok ginjal.
Dokter menyarankan papa untuk mencari donor ginjal yang pas untuk kak Raissa, tetapi setelah papa keliling ke ratusan rumah sakit, ternyata papa tak juga mendapatkan ginjal yang pas untuk kak Raissa, akhirnya ginjal papa dan mama diperiksa untuk dicocokkan dengan ginjal kak Raissa. Tetapi ternyata ginjal mereka nggak cocok dengan punya kak Raissa.
Kemudian aku terlintas sebuah ide. Aku nggak mau kehilangan kak Raissa, tanpa kak Raissa dirumah, rasanya hampa, rumahku terasa seperti rumah hantu tak berpenghuni tanpa canda tawa kak Raissa. Aku mengusulkan ke papa, agar ginjalku saja yang didonorkan ke kak Raissa. Tapi seketika itu papa dan mama langsung memarahiku. Tetapi aku tetap memohon agar dibolehkan. Jawabannya tetap sama, “TIDAK!!!” dengan tanda seru yang banyak.
“Kamu tau akibatnya punya satu ginjal saja? Nggak enak. Papa sama mama nggak mau kalau papa dan mama punya dua anak yang ginjalnya cuman satu. Sedih nak, sedih.” Nasehat papa.
“Tapi papa sama mama lebih nggak mau kalau papa sama mama kehilangan kak Raissa kan? Lebih baik ginjal aku aja yang didonorin buat kak Raissa. Pa, aku juga nggak mau kehilangan kak Raissa.”
Tetapi papa tetap saja bilang tidak bisa.
Malam hari tiba, dirumah aku sendirian, karena papa sama mama menemani kak Raissa dirumah sakit. Dokter memvonis kak Raissa, jika kak Raissa tidak segera mendapatkan donor ginjal dalam kurun waktu 7 hari, maka bisa jadi kak Raissa akan meninggal.
Karena aku tak mau kejadian tersebut terjadi dengan kak Raissa, akhirnya diam-diam aku izin ke dokter untuk mengetes kecocokan ginjalku dengan kak Raissa, ternyata hasilnya cocok. Akhirnya kak Raissa mendapatkan donor ginjal. Tetapi dokter tidak bilang siapa yang mendonorkan ginjal tersebut ke papa ataupun mama, karena aku takut mereka memarahiku.
Operasi berjalan dengan lancar, akhirnya kak Raissa sembuh dalam kurun waktu 2 minggu, aku ikut senang. Walau aku dan kak Raissa hanya hidup dengan satu ginjal, tetapi kita tak akan pernah berhenti untuk saling menyayangi. Karena satu ginjal milik kak Raissa adalah satu ginjal milikku. Hingga saat ini, papa dan mama nggak tau kalau aku yang mendonorkan ginjal tersebut kepada kak Raissa, semoga saja mereka nggak akan pernah tau, kalau aku yang mendonorkannya. Kalau tau, mereka pasti akan memarahiku.


THE END

No comments:

Post a Comment