Saturday, April 20, 2013

The Story of us - by Dewi Ariyati


                   Aku berjalan menelusuri lorong sekolah baruku. Rasanya asing jadi murid baru, baru pertama kali ini aku jadi murid pindahan. Dulu aku sekolah di Jakarta, dan sekarang aku harus pindah sekolah ke Surabaya. Biasanya di Jakarta aku kan ngomong Lo gue Lo gue. Dan kalau ngomong aku kamu di Jakarta pasti kesannya kita di kira pacaran. Tapi di Surabaya kali ini beda, kalau aku ngomong Lo gue jadinya di kira sok gaul. Dan kalau aku ngomong aku kamu, itu kayak terlalu berbahasa Indonesia. Jadinya harus ngomong kon aku tapi aku nggak bisa. Bahasa jawa aja aku nggak tau. Gimana mau ngomong kon aku?
                Ketika aku berjalan mencari ruang kelasku, aku merasa aneh. Karena setiap aku lewat pasti anak-anak di sekolah pada ngelihatin aku. Tetapi aku tidak menghiraukan mereka, aku tetap berjalan mencari ruang kelasku. Tapi aku lupa aku masuk kelas apa ya? akhirnya aku berlari menuju ruang guru untuk bertanya sama guru yang ada.
                “Permisi, Bu! Saya anak baru, ruang kelas saya dimana ya?” tanyaku sopan.
                “Oh, kamu Nabila ya? kebetulan saya wali kelas kamu. Saya bu Andre, mari kamu ikut ibu aja!” jawab bu Andre dengan senyuman berlesung pipit.
                Aku dan bu Andre berjalan menuju ruang kelas baruku. Sembari bel masuk berbunyi. Kemudian speaker di depan kelas berbunyi, “Mari kita berdoa sebelum kita memulai pelajaran!”
                “Kita berhenti sebentar ya! berdoa dulu” Ujar bu Andre.
Aku mengangguk.
                Setelah berdo’a selesai, kami berdua memasuki ruang kelas. Semua murid yang ada di kelas baruku melongo melihatku. Lah, kenapa? Ada yang salah sama aku? Aku melihat diriku sendiri dari kaki hingga atas kepalaku. Perasaan nggak ada yang aneh sama aku.
                “Nab, kamu perkenalkan dirimu dulu!” perintah bu Andre.
                “Hai, teman-teman” kataku mengawali perkenalan dengan semua yang ada di kelas. “Nama gue Nabila Angraeni, lo semua bisa manggil gue Nabila. Gue pindahan SMP Nusa Bakti Jakarta. Salam kenal!”
                “Hah? Gue? Lo? Oala.....” sahut salah satu anak yang ada di kelas itu.
                Lalu bu Andre menyuruh diam semua anak. karena setelah ada yang berkata begitu kelas jadi ribut. Karena Cuma ada 2 bangku yang kosong, aku duduk disitu, sendirian. Tak ada teman.
                “Hai, nama kamu siapa?” tanyaku kepada anak yang ada di depanku.
                “Sekarang kamu, tadi kok lo gue loh?” jawab anak itu ketus.
                Aku menurunkan tanganku yang tadinya menyentuh pundaknya. Aku menggeleng padanya. Kayaknya semuanya pada benci sama aku. Aku menoleh ke arah salah satu anak cowok yang ada di dekat jendela. Nggak sengaja kami bertatapan. Tetapi dia sedang mengobrol degan teman-temannya.
                Bu Andre membiarkan kami ramai sejenak. Dan seketika itu kelas menjadi hening nggak ada suara.
                “Baiklah, semoga kalian dapat berteman baik dengan Nabila ya! hari ini kalian bebas mau ngapain, tapi nggak boleh keluar kelas!” ujar bu Andre. “Oh ya, Nabila, saya guru musik disini.” Lanjutnya sembari menoleh kearahku, lalu meninggalkan kelas.
                Aku tersenyum senang. Aku senang karena ternyata wali kelasku sendiri itu guru musik. Aku jadi murid baru di sekolah ini ketika memasuki semester kedua kelas 10. Masih baru SMA ya.... hehe....
                Tiba-tiba anak yang di depanku tadi mengajakku bicara. “Eh, siapa nama kamu? Nabila ya? di pelajaran musik ini kita ada ensamble loh, tau nggak? Disini ada 3 kelompok, terserah kamu mau masuk kelompoknya siapa. Kalau bisa sih jangan masuk kelompokku ya! namaku Fika.” Ujar Fika.
                “Ya, aku tau kok ensamble itu apa.” Jawabku singkat.
                Setahuku ya, kalau anak baru itu biasanya langung di geromboli sama anak-anak satu kelas, karena penasaran. Tapi kalau ini kok enggak ya? aneh. Aku berdiri dan mencoba bergaul dengan anak-anak yang ada di dekat bangku anak cowok yang bertatapan denganku tadi.
                “Hai, seni musik ada ensamble ya? kalau boleh aku masuk kelompok kalian deh.” Sahut ku di tengah pembicaraan mereka.
                “Ummm... kalau kita sih terserah, coba kamu tanya aja sama cowok-cowok di belakang kita. Dia juga kelompok kita. Ketuanya itu loh yang nyenden di dekat jendela. Oh ya, aku Diana. Salam kenal ya, Nab!” jawab Diana dengan tersenyum.
                Diana sedikit ramah. Nggak kayak anak yang ada di depanku tadi. Kemudian aku berpindah tempat ke anak-anak cowok yang sedang mengobrol. “Um..... katanya seni musik ada ensamble aku boleh gabung sama kelompok kalian nggak?” tanyaku pada mereka.
                “Kalau kita ya, terserah-terserah aja sih. Nggak tau lagi sama Reno pak ketua.” Jawab salah satu dari ke lima cowok yang ada di situ. “Aku Dean.”
                “Oh, okay! Reno yang mana?” tanyaki sedikit bodoh.
                “Itu, yang menyenden di dekat jendela. Aku David.” Jawab David sambil memperkenalkan diri.
                “Nggak bisa. Aku nggak mau ada anak yang nggak suka musik masuk ke kelompok kita. Percuma!” jawab Reno ketus.
                Aku melongo melihat jawaban Reno. Ih, jahat banget. Ternyata anak yang bertatapan sama aku tadi sifatnya angkuh. Nyesel aku.
                “Emang kamu tau dari mana?” balasku kembali ketus.
                “WAJAHMU, orang JAKARTA!” jawab Reno dan segera pergi meninggalkan bangkunya.
                “Woy Ren. Kemana?” tanya David.
                “Kamar mandi!” jawab Reno singkat.
                Dia benci aku ya, kok sampai sebegitunya? Yaasudahlah aku ke kelompok lain aja deh. “Eh, tunggu-tunggu.” Ujar Fred sembari memegang tanganku erat sesaat setelah aku berniat berpaling dari tempat duduk mereka.
                “Kamu suka musik? Kalau iya, kamu buktikan sama Reno kalau kamu memang bisa. Terserah kamu mau drama atau apa. Reno orang nya memang gitu. Sulit menerima orang baru di kelompoknya. Tapi dia termasuk gitaris kece di kelompok kami. Jadi kamu ikut kelompok kita aja, nggak apa” jelas Fred.
                Aku mengernyitkan dahi. Dan Fred mengangguk dengan pasti. “Okelah, kalau boleh sih, ya nggak apa!”
                                                ************
                Aku mendengar suara orang marah-marah di kelas. Setelah aku datang semuanya terdiam. “Fred! Awas kamu!” ancam Reno lalu bergegas meninggalkan ruang kelas.
                Aku terdiam melihatnya keluar kelas dan pergi entah kemana. Fred menatapku dengan mata mengeluh. Pasti mereka bertengkar gara-gara aku.
                “Eh, Nabila! Kamu dengerin aku ya! KAMU ITU PEMBUAT MASALAH! DENGAN MASUK DI KELOMPOKNYA RENO! GARA-GARA KAMU, RENO SAMA FRED YANG AWALNYA BERTEMAN BAIK, SEKARANG JADI MUSUHAN!” sahut Fika dengan nada marah, lalu lagi-lagi dia pergi dari kelas.
                Aku bingung, apa yang harus aku lakuin. Sepertinya aku Cuma pembawa masalah di kelas ini. Mereka semua nggak ngerti aku.
                Dan kebetulan hari ini adalah pelajaran olahraga. Aku senang karena materi hari ini adalah BASKET. Yihaa..... dulu waktu SMP aku kapten basket sekolah loh.. *Sombong*
                “Baik anak-anak, saya dengar ada murid baru ya?” tanya guru olahraga.
                “Iya paaakkkk!” semua anak menjawab, kecuali golongan Fika, dan Reno seorang.
                “Mana? Coba angkat tangan!” perintah guru olahraga.
                Aku mengangkat tangan. Kemudian guru itu menyuruhku ke depan. Dan aku mengikuti perintahnya.
                “Kamu belum tau nama saya kan? Saya Pak Arif. Saya guru olahraga sekaligus ekskul basket. Sekarang saya mau tes kemampuan basket kamu!” ujar pak Arif.
                yes . pikirku. Aku bisa buktikan ke Reno kalau aku bukan cewek yang harus direndahkan. Jujur aku baru tau sekarang, kenapa anak-anak pada benci sama aku. Aku lupa kalau setiap ke sekolah aku selalu memakai kacamata yang besar, dan itu membuatku terlihat culun. Gayaku pun menyertaiku. Aku lagi bergaya culun kalau di sekolah. Tapi sebenarnya aku nggak culun kok. Aku cuman drama, biar tau siapa yang benar-benar bisa jadi teman sejatiku, tapi nyatanya nggak ada.
                Pak Arif memberiku bola basket melemparkannya dengan gaya chest-pass. Dan aku berhasil menangkap bola itu. Tapi nggak ada satu pun anak yang terkejut. Mungkin bagi mereka menangkap bola adalah hal yang bisa dilakukan oleh semua orang.
                Pertama-tama, pak Arif menyuruhku men-dribble bola. Pura-pura nggak bisa atau bisa aja ya? bisa aja deh, entar malah banyak yang nggak suka sama aku karena drama bodoh ku ini.pikirku.
                “Woy buruan, nggak bisa ya? masak nge-dribble aja nggak bisa?” sahut Reno mengejekku. Karena aku nggak segera men-dribble­  bola itu.
                Aku melirik sinis kearah Reno. Lalu aku mulai men-dribble nya. Reno terkejut dan berbisik ke teman sebelahnya, tepatnya David sambil nunjuk aku. “Leh, arek iku isok, Vid! Kirakno gak isok!” seru Reno.
                Aku diam saja melihat mereka menertawakanku. Kemudian pak Arif menyuruhku lay-up. Nah ini bagian yang kusuka dari basket. Aku serasa bisa terbang kalau lagi lay-up.
                “Culun mana bisa LAY UP??” sahut Fika sinis.
                “Fika! Jaga omonganmu!” sentak pak Arif.
                Aku mencoba melakukan lay-up. Dan melirik ke arah Reno melihat matanya yang seperti mengatakan. “Mundur aja deh. Kamu loh culun! Nggak usah sok sok bisa!”
                Tapi nggak ada yang tau kalau dulu aku itu kapten tim basket. Jadi silahkan aja tertawa sesuka kalian. Toh, nyatanya aku bisa main basket. Dan layup ku kali ini adalah layup yang terindah sepanjang sejarah aku main basket.          
                Sekali lagi aku berhasil membuat Reno terkejut. Hihihi...... lihat aja nanti.
                Pelajaran olahraga hari ini sangat menyenangkan bagiku. Timku berhasil menang dari tim Reno. Sang kapten basket sekolah, yang aku baru tau setelah aku mengalahkannya. Ceritanya, mainnya ini cewek lawan cowok.   
                “Gila, ternyata Nabila itu bisa main basket! Masa dia bisa ngalahin Reno sih.!” Ujar Gerald.
                Reno tersenyum kecut.
                Reno dan kawan-kawannya dijuluki 5 sekawan. Karena memang dia dan sahabat-sahabatnya ada 5 orang. Yaitu, Reno, Gerald, David, Fred, dan Dean. Mereka nggak pernah bisa di lepaskan.
                Setelah olahraga, kami kembali melanjutkan pelajaran. Yaitu pelajaran Bahasa Inggris. Di sela-sela Miss Helena menerangkan, aku menatap ke arah Reno yang menurutku dari tadi melihatku. Dengan tatapan mata yang tajam, datar, mengeluh, marah, pokoknya campur-campur deh. “Reno! Coba jelaskan apa yang saya terangkan tadi! Jangan lihat ke arah Nabila terus dong!” sahut Miss Helena yang mengetahui Reno melihatku.
                “Mana mungkin Reno ngelihatin Nabila, paling-paling sebenarnya dia ngelihatin aku!” bisik Fika ke teman sebangkunya, Rara. Yang kemudian diikuti Rara dengan menatapku sinis.
                “Maaf..... Miss! Tapi saya tadi tidak mendengarkan!” Jawab Reno ketakutan.
                “Saya nggak mau tahu. Pokoknya kamu harus menjelaskan apa yang saya terangkan.”
                Reno berjalan maju kedepan kelas dengan muka lusuh. “Ada yang mau membantu?” tanya Miss Helena.
                Fika mengangkat tangannya. “Saya dengan senang hati membantu Reno bu!” jawab Fika.
                “Kamu? Um..... tapi kamu tadi mendengarkan! Lebih baik Nabila saja yang dari tadi juga melihat ke arah Reno.” Ujar Miss Helena.
                “WHAT THE HELL?” kataku kaget. Disertai dengan ledakan tawa satu kelas. “Kok aku sih, Miss?” lanjutku.
                “Ya, karena kamu dari tadi nggak fokus.”
                Akhirnya aku maju dengan berat hati dan menjelaskan semua yang diterangkan Miss Helena.
                “Huh, Nabila lagi, Nabila lagi....” gumam Fika.
                Reno melongo melihatku menerangkan semua yang sudah di jelaskan Miss Helena. “Eh, bukannya kamu dari tadi ngelihatin aku? Tapi kok kamu bisa jelaskan semua yang sudah di jelaskan Miss Helena?” tanya Reno.
                Aku menutup spidol papan tulis yang kupengang. Melepas kacamataku lalu menjawab, “Lagian, siapa yang ngelihatin kamu? Aku loh ndengerin Miss Helena. Miss Helena aja yang ngirain aku ngelihatin kamu. GR!”
                “Tapi tadi aku juga lihat kalau kamu ngelihatin aku?” tanyanya lagi. Tapi aku keburu duduk dibangku ku .
                Miss Helena diam saja lalu menyuruh Reno duduk.
                                                                *********
                2 bulan telah berlalu, aku dan Reno tetap bermusuhan. Dan hari ini adalah jadwal ulangan ensamble. Bu Andre menyuruh kami berkumpul di ruang musik.
                “Ya, hari ini kita ulangan ensamble ya! sudah siap kan?” tanya bu Andre.
                Kami mengangguk.
                Kelompokku dapat giliran ketiga, dan itu membuat kami lega. “Hei, nanti yang serius ya kalau maju.” Ujar Reno kepada kami semua.
                Kami mengangguk pasti.
                Kelompokku terdiri dari Salsa (pianika), Dea (Pianika), Fara (Recorder), Jessica (recorder), Silvi (pianika), David (Drum), Dean (pianika), Gerald (pianika), Reno (gitar), Fred (recorder), aku (recorder). “Woy, Nab! Nanti kalau maju kacamatamu lepas aja lah!” sahut Reno di tengah lamunanku.
                “Hah? Dilepas? Buat apa? Gak mau ah!” tolak ku.
                “Biar kita semua kompak nggak pake kacamata, Nabila!” jelas Reno.
                “Ekhm.... Ekhm..... ada yang pedekate nih.” Sahut Dean.
                “Hei, lo gila? Gue musuk dia bukan pacar dia!” jawabku.
                “Eh, siapa juga yang mau pedekate sama culun ini? Kakek lo?” ujar Reno.
                “Wososos! Santai mas bro mbak bro! Saya bercanda.”  Sahut Dean. Lalu melanjutkan, “BTW, Ren! Kok kamu sekarang jadi agak lembutan gitu ya? perasaan dulu kalau di gituin, muarah banget dan berniat membunuhku?”
                “Ha?” jawab Reno.
                Aku tertawa kecil. “Jangan ketawa kamu!” seru Reno marah.
                Nggak sadar, giliran kami tiba. Kami membawakan lagu Taylor Swift- you belong with me.  “Dia keren” gumamku setelah lagunya habis. Eh, kok tiba-tiba gue bilang dia keren sih? Salah.  Pikirku.
                Dikelas, “Fika mana Fika?” tanya Dean.
                “HAI AKU DISINI. Ada apa Dean?” jawab Fika dengan senyuman nggak jelas.
                Aku lagi menulis puisi di belakang tempat duduk Fika. Melihat Fika yang kegatelan itu. “Fik, Di sukai sama Reno!” jawab Dean.
                “Enggak kok Enggak!” sahut Reno dengan senyum senyum.
                Tiba-tiba dadaku terasa sesak mendengar hal itu dan melihat Reno yang sepertinya benar-benar suka Fika. Aku melihat ke arah Reno, dan Reno menatapku balik. Apa mungkin ini........ enggak enggak, nggak mungkin. Nggak mungkin aku suka sama Reno. Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi.
                Aku berlari keluar kelas, menuju ruang guru. Dan meminta izin kepada bu Andre untuk meminjam Piano di ruang musik, dan bu Andre mengizinkannya.
                Aku segera pergi ke ruang musik untuk bermain piano. Aku memainkan lagu Taylor Swift – you belong with me. Dengan menyanyikan liriknya.

You're on the phone with your girlfriend, she's upset
She's going off about something that you said'
Cause she doesn't get your humor like I do
I'm in the room, it's a typical Tuesday night
I'm listening to the kind of music she doesn't like
And she'll never know your story like I do
But she wears short skirts, I wear T-shirts
She's Cheer Captain and I'm on the bleachers
Dreaming about the day when you wake up and findThat what you're
 looking for has been here the whole time
If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why can't you see?
You, you belong with me, you belong with me

Walking the streets with you and your worn-out jeans
I can't help thinking this is how it ought to be
Laughing on a park bench, thinking to myselfHey, isn't this easy?

And you've got a smile that could light up this whole town
I haven't seen it in a while since she brought you down
You say you're fine, I know you better than that
Hey, what ya doing with a girl like that?
She wears high heels, I wear sneakers
She's Cheer Captain and I'm on the bleachers
Dreaming about the day when you wake up and find
That what you're looking for has been here the whole time
If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why can't you see?You belong with me

Standing by and waiting at your back door
All this time how could you not know?
Baby, you belong with me, you belong with me

Oh, I remember you driving to my house in the middle of the night
I'm the one who makes you laugh when you know you're 'bout to cry
And I know your favorite songs and you tell me 'bout your dreams
Think I know where you belong, think I know it's with me

Can't you see that I'm the one who understands you?
Been here all along, so why can't you see?
You belong with me

Standing by and waiting at your back door
All this time, how could you not know?Baby,
 you belong with me, you belong with me

You belong with me
Have you ever thought just maybe
You belong with me?
                Aku nggak menyadari kalau aku menangis, mataku mengeluarkan air mata. Aku kenapa? Kenapa aku begini. Aku menutup piano itu. Dan duduk sebenta di depannya. Menangis dan nggak berhenti. Aku menangis kenapa? Nggak mungkin hanya karena dengar Reno suka sama Fika.
                Aku mengusap air mataku dan bergegas pergi meninggalkan ruang musik. Ketika aku sampai di depan kelas aku di cegat sama Reno, aku menatapnya heran. “Kamu tadi yang main piano di ruang musik kan?” tanya Reno.
                Aku menggeleng, dan segera melewatinya. Tetapi Reno mengikutiku. “Jawab aja apa susahnya sih, Nab?” tanya Reno lagi.
                Tetapi aku tetap merunduk, meletakkan kepalaku di atas meja. “Haduh, Reno! Kamu kan udah jadi pacar aku. Jadi kamu nggak boleh deket-deket sama dia dong.!” Sahut Fika yang tiba-tiba datang.
                Kemudian Reno meninggalkanku. Dan pergi dengan Fika.
                Aku nggak tau apa yang terjadi hari ini. Kenapa aku menangis saat aku mendengar Reno suka Fika. Aku mengambil gitar di kamar adik, kebetulan gitarku tadi di pakai sama dia. Dan lagi-lagi aku memainkan lagu YOU BELONG WITH ME. Ketika aku keasyikan memainkan lagu itu. Telponku berdering. “Halo, ada apa Sal?” tanyaku di telpon. Ternyata yang menelpon Salsa.
                “Nab! Kita hangout ya. aku mau cerita nih! Aku boleh kerumahmu kan sekarang?” jawab Salsa
                “Um.... iya!”
                Kemudian Salsa menutup telpon.
                Tak lama kemudian Salsa datang sendirian. Masuk ke kamarku. “Haduh,,,,, Nab!!” kata Salsa mengeluh.             
                “Ada apa, Sal?” tanyaku.
                “Reno kok bisa sih jadian sama Fika?” jawab Salsa.
                Aku menggeleng dan seketika mukaku berubah menjadi kusut.
“Eh, kamu megang gitar btw, kamu bisa main gitar?” tanya Salsa.
                “Ya, bisa sih!”
                “Terus kenapa kamu nggak main gitar aja pas ensamble kemarin?” tanya Salsa.
                “Aku males” jawabku singkat.
                “Hey, perasaan gayamu nggak culun deh kalau dirumah? Dan cara bicaramu juga biasa?” tanya Salsa lagi.
                “Oke, aku mau cerita. Tapi kamu janji ya jangan bilang ke siapa-siapa.”
                Salsa mengangguk.
                “Sebenarnya, aku itu memang nggak culun.” Salsa terkejut. “Aku itu Cuma drama. Maaf, Sal! Aku drama soalnya aku pengen punya temen yang bener-bener baik. Nggak cuman manfaatin aku.” Jelasku. “Dulu waktu SMP, aku punya teman. Ya kayak kalian gitu. Tapi, mereka cuman manfaatin aku doang.”
                “maksudnya?” tanya Salsa.
                “Jadi, dulu aku itu famous lah di sekolah. Bukannya sombong loh ya! dulu aku itu kapten tim basket sekolah, dan aku juga gitaris band sekolah. Dan aku itu dulu suka nulis lagu. Tapi setelah lama, aku baru tau kalau teman-temanku itu hanya manfaatin famousku, biar mereka bisa famous juga. Terus mereka juga mencuri laguku dan ngaku kalau itu dia yang mengarang. Munafik banget nggak sih?”
                “Iya, sih! Kok gitu temanmu?”
                “Aku sendiri nggak tau.”
                Kemudian Salsa terdiam sejenak, “Sal, kamu suka Reno ya?” tanyaku.
                “Hah? Ya enggaklah. Jujur deh, Nab! Aku itu nggak suka Reno. Cuman aku heran aja sama anak itu. Perasaan dia nggak suka cewek yang kayak Fika. Tapi kok tiba-tiba dia suka.” Jawab Salsa.
                “Lalu?”
                “Kamu mungkin yang suka sama Reno?” tanya Salsa balik.
                “Apa?? Kamu gila? Dia kan musuhku...” jawabku.
                Salsa menatap mataku dalam-dalam. “Nggak usah pake bohong, Nab! Matamu bilang kamu suka dia kok. Dan aku tau, kemarin kamu nangis kan di ruang musik?” tanya Salsa lagi
                Aku menggeleng. Salsa tersenyum.
********
                Fika adalah kapten cheerleaders di sekolah. Dia memang lebih keren dari aku. Tapi aku pikir dia nggak lebih baik dari aku.
                “Nab!” panggil seseorang di sampingku.
                “Apa?” tanyaku.
                Reno menggeleng. Lalu pergi meninggalkanku sendirian.
                 Hari ini papa ngajak aku jalan-jalan keliling kota. Dan ketika hendak pulang tiba-tiba rem mobil papa blong. Dan akhirnya kami menabrak pohon. Kepala papa berdarah. Begitu juga dengan hidungku. Aku mimisan.
                Setelah itu aku nggak tau apa yang terjadi, tetapi aku sudah berada di rumah sakit dengan Reno yang duduk di sampingku.
                Aku terkaget, dan segera berdiri dari ranjangku. Mengusap wajahku, “Reno?? Kok kamu ada disini?” tanyaku.
                “Syukurlah kamu sudah sadar, kalau begitu aku pulang dulu ya!” jawab Reno.
                “Loh Ren! Kamu belum jawab pertanyaanku,” seruku.
                Tapi dia tetap meninggalkanku dan sebelum ia menutup pintu kamar rumah sakit ku ia tersenyum kecil.
                Reno berjalan melewati jembatan dan berhenti sejenak. Kemudian ia melemparkan kapal-kapalan dari kertas ke sungai itu. Kemudian meninggalkan jembatan tersebut untuk segera pulang.
                Tak disangka, Salsa menemukan kapal tersebut, lalu mengambilnya. Dan membukanya menjadi selembar kertas berisi tulisan.
Dear Nabila,
                Cepet sembuh ya! aku menunggumu untuk kembali ke sekolah. Dan aku beritau ke kamu kalau aku sudah putus sama Fika sejak aku tiba-tiba memanggilmu lalu ketika kamu tanya apa, aku menggeleng dan pergi meninggalkanmu. Aku nggak tau kenapa, akhir-akhir ini aku sering memikirkanmu. Salsa cerita sama aku, katanya kamu nangis gara-gara aku jadian sama Fika ya? aku minta maaf  soal itu, Nab!
                Siapapun yang menemukan surat ini, kumohon jangan beritau ke Nabila. Makasih. RENO.
                “Bener kan dugaanku.” Gumam Salsa setelah membaca surat itu.
                Keesokan harinya aku mulai masuk sekolah. Dan semua anak di kelas menyambutku dengan gembira. “Selamat datang kembali di sekolah, Nabila!” ujar Salsa.
                Aku tersenyum.
                “Woy, buat apa sih ini ? nggak guna!” Sahut Fika sinis. “Eh, ntar malem aku ngadain pesta prom night. Pada dateng ya! harus pake gaun buat yang cewek, yang cowok terserah.” Lanjut Fika.
                “Prom night?” gumamku.
                Reno tanya ke aku lewat secarik surat. Kamu datang?  Lalu aku membalas, kayaknya enggak, aku ada acara malam ini. Tak lama kemudian ada balasan lagi dari Reno. Wish you were! . maksudnya apa? Kemudian aku membuka buku laguku yang paling akhir, dan aku melihat ada tulisan I LOVE YOU, RENO . sepertinya aku harus berpikir lagi.
                Jam menunjukkan pukul 7 malam, dan pesta prom night nya sudah dimulai. Tapi aku masih berpikir, aku datang apa enggak.
                Aku pergi ke pesta prom night, jam 7 lebih 15 menit. Dengan memakai gaun yang baru dibelikan mama kemarin. Tanpa kacamata, dan rambut yang diurai.
                Semua anak yang ada di dalam, melihatku dengan melongo. Dan aku melihat Reno berjalan kearahku sambil tersenyum. Tetapi Fika mencegahnya, “Dansa yuk, Ren!” ajak Fika.
                Aku terdiam di depan mereka. “Maaf, aku dansa sama Nabila aja. Malam ini dia cantik banget.” Jawab Reno. Kemudian ia berjalan kearahku sambil membuka secarik kertas yang bertuliskan I LOVE YOU dan menunjukkannya padaku. Kemudian aku membuka buku laguku yang paling belakang dan menunjukkannya ke Reno. Kemudian Reno tersenyum dan aku pun sama. Kami pun berdansa.
                “Untuk melengkapi acara malam ini, aku mau salah satu dari kalian untuk menyanyikan sebuah lagu di sini. Aku panggil, Nabila.” Ujar Fika yang membuka acara.
                Semuanya terpusat ke arahku yang berdiri di samping Reno. “Aku?” tanyaku memastikan. “Yap kamu!” jawab Fika.
                Huh,.... kamu udah ngerebut Reno dari aku, Nab! Kali ini aku akan membuatmu malu di depan semua anak. karena kamu nggak bisa bernyanyi ataupun bermain alat musik. Pikir Fika.
                “Harus memainkan alat musik sendiri” tambah Fika.
                Kemudian aku mengambil gitar akustik listrik yang ada di samping panggung dan membawanya ke atas panggung.
                “Aku akan menyanyikan sebuah lagu, karanganku sendiri. Lagu ini di tujukan untuk seseorang.” Kataku memberitahukan sembari tersenyum ke arah Reno.
                Aku mulai melantunkan gitar dan mulai bernyanyi,
THANK YOU FOR THIS BROKEN
When first day of school
You looked at me so serious
I dont know why
But my heart says that he’s awesome
And then, when i know your attitude
I resigned
Then we were hostile
Fight everyday, never stop
Debate everyday, never stop
I say we just a friend, you underestimate me
Because i’m an autism girl, you think
Actually i’m not, i’m normal
Like other, like other.
One day when i hear you love a cheer captain, my heart crying
My heart crying, my piano crying, my guitar crying
My heart broken, i say i hate today.
Actually i love you, but i never know if i love you
Thanks for this broken
I say thank you.
End
                Standing applause dilakukan semua anak yang ada di acara ini. Dan aku benar-benar senang hari ini. Mulai hari ini, nggak ada satu pun anak yang meremehkanku, menghinaku, memanfaatkanku. Hanya saja, Fika masih benci sama aku.
                THE END

Saturday, April 6, 2013

LIGHT UP THE DARK- by Dewi Ariyati

ini  cerita singkat banget.
          "cahaya itu menerangiku sesaat. lalu dia pergi lagi." -Defha-
   Defha. anak kelas 3 SMA. hari ini ada ujian praktek olahraga, yaitu lari keliling jalan merak- jalan bunga. sebanyak 10 kali.  dan kira2 itu jaraknya 3 km. bayangkan? 3km di kali 10 = 30 km. bisa-bisa Defha pingsan. tapi tekad Defha benar-benar mengalahkan penyakitnya. tapi hanya untuk sesaat. Defha punya penyakit yang langka. tapi ada obatnya. yaitu saat Defha kecapekan, hidungnya akan mengeluarkan darah (mimisan). peraturan obatnya bukan sehari tiga kali atau sehari dua kali. tapi, obat itu harus diminum sesaat setelah Defha mimisan. dan itu bisa-bisa sehari 4-5 kali. tapi kalau nggak diminum, bisa-bisa Defha mengalami sesak nafas lalu pingsan, kalau tidak segera di tolong bisa mati.

          Defha suka sama anak satu kelasnya. namanya Farel. ya, Farel. Defha tau kalau Farel itu suka sama Arin sejak kelas 1 SMA hingga sekarang. tapi Arin nggak pernah mau tau soal Fadel. Fadel punya penyakit asma yang selalu menghantui hidupnya. tapi dia nggak peduli soal itu. dia tetap terlihat sehat walaupun dia sakit.

       Hari ini ujian praktek olahraga dilaksanakan, awalnya Defha terlihat baik-baik saja. tapi pada putaran terakhir, penyakitnya mulai kambuh , "Hosh-hosh-hosh" hidung Defha mulai mengeluarkan darah. dia berhenti sejenak bersandar di pohon terdekat. mengelap daerah sekitar hidungnya dengan tangan. lalu mencari-cari obat di saku celananya, "Obat? Obatku? dikelas! NO." awalnya dia berada di urutan tengah-tengah. namun akhirnya berada di paling akhir, paling akhir, akhir!

      Disisi lain, penyakit Farel juga kambuh. tapi untung saat itu ia membawa obatnya. jadi dia nggak kesulitan mencari nafas lagi. kemudian ia kembali berlari hingga menemui Defha di tempat yang agak jauh dari tempat Defha berhenti sebelumnya. karena Defha melanjutkan larinya walaupun hidungnya penuh darah. "Loh? Defha? hidungmu kenapa? itu darahnya banyak." tanya Farel. seutas senyum terbentuk di muka Defha. "Aku nggak apa kok, Rel!" jawab Defha dengan nada sedikit tersendat2. "Oke kalau kamu gaapa. aku lanjut lari. da" Farel meninggal kan Defha begitu saja. tanpa ada tolehan lagi setelah ia berbicara dengan Defha. "Seandainya aku Arin, apa yang akan kamu lakukan? kamu pasti panik mencari pertolongan. tapi aku hanya Defha, temanmu yang benar-benar nggak guna" Pikir Defha sambil berlari kecil.

       Pandangan Defha semakin lama semakin kabur. tapi untung dia sudah sampai di depan gerbang sekolah. sambil tersenyum lega, tapi sesaat kemudian ia mulai merasa terlalu lelah, hingga ia berfikir, "Farel, kalau aku boleh bilang, aku suka kamu. kalau aku masih ada waktu aku akan membantumu setulus hatiku. tapi kali ini beda. mungkin percakapan tadi mengakhiri semuanya. aku pergi dari sini , melihatmu untuk yang terakhir kalinya berdiri di depanku tapi tidak menghadapku, aku minta maaf jika aku punya salah. selamat tinggal, aku akan pergi, pergi untuk selamanya." . Blug!!! Defha terjatuh berbaring lemas di depan gerbang sekolah dengan hidung berlumuran darah. Farel berbalik badan. seketika ia menjadi bingung melihat Defha yang pingsan tak bergerak. lalu memanggil pak Are, sebagai guru olahraga mereka. "Pak! Defha pingsan! dan hidungnya berlumuran darah."

     Pak Are, dan teman-teman lainnya panik. Farel, dengan perasaan campur aduk mengangkat Defha yang terbaring lemas dan membawanya segera ke rumah sakit dekat sekolah mereka bersama pak Are. sesampai dirumah sakit. pak Are menyuruh Farel untuk kembali ke sekolah. kemudian pak Are menelpon orang tua Defha. seketika itu Defha masuk ruang ICU. tetapi Farel keburu sampai di sekolah dan dia tidak mengetahui hal tersebut. Farel hanya berharap tidak terjadi apa-apa dengan Defha.

          seharian penuh, Farel menggalau. dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. perasaannya campur aduk, sedih, marah karena dia tidak menolong Defha yang jelas-jelas terlihat sakit dan butuh pertolongan. dan satu rasa yang membuatnya semakin larut dalam kegalauannya. sebenarnya rasa ini sudah lama ada di hatinya. tapi dia tidak tahu jelas, perasaan itu bilang apa.

       keesokan harinya, kebetulan hari ini hari Sabtu. jadi ada kesempatan untuk Farel menjenguk Defha. dia pergi ke rumah sakit dekat sekolahan sendirian dengan menaiki skateboard kesayangannya. sesampainya di rumah sakit, ia bertanya kepada mbak-mbak yang ada di tempat recepsionis untuk bertanya soal Defha. "Mbak, permisi mau tanya. anak yang bernama Defha Alyssya ada diruang berapa ya?"
       "Sebentar, Defha Alyssya ya?" mbak itu mencari nama Defha di data komputernya, setelah menemukan nama itu ia langsung bilang kepada Farel. "Defha Alyssya, setelah menjalani pemeriksaan ia masuk ke ruang ICU. coba cari di sana." Farel berterima kasih kepada mbak recepsionis itu, lalu bergegas keruang ICU. bertanya kepada suster yang ada di depan ruang itu, "Mbak, di dalam ada anak yang bernama Defha Alyssya?" tanya Farel. "Maaf dik, kemarin baru saja ia dibawa pulang sama orang tuanya karena dia telah tiada. sesaat setelah dia masuk ruang ICU." setelah mendengar perkataan seperti itu, Farel langsung berlari kebingungan hingga akhirnya duduk sebentar di kursi rumah sakit.

       matanya  penuh dengan aliran air mata, sedih dan tidak percaya. dia menyesal karena belum bilang soal perasaannya kepada Defha, ia terlarut dalam kesedihannya. "Def, aku minta maaf soal semuanya. sebenarnya aku udah lama suka sama kamu. tapi aku bingung gimana aku harus ngungkapinnya. masalah aku yang cuek sama kamu itu sebenarnya aku malu buat bicara sama kamu. jadi aku berusaha menutupi kalau aku suka sama kamu. aku minta maaf banget. aku nggak bisa bilang ini disaat percakapan terakhir kita kemarin. aku nyesel!" ujar Farel, seakan didepannya ada Defha yang sedang mendengarkannya.

                                                        ***********

      "Hai. kamu serius bilang kayak gitu? aku nggak nyangka, cius!" sahut Defha yang ternyata masih hidup. Farel menoleh kearah Defha. ia berbisik, "Defha?"

    "Hey! kamu pikir aku sudah mati gitu? kamu pingin aku mati ya?" ujar Defha. lalu ia melihat Farel yang menatapnya serius dengan ekspresi bingung dan nggak percaya. lalu meyakinkan. "Kalau kamu datang ke ruang ICU, dan tanya namaku, pasti susternya bilang nama itu telah tiada. kalau kamu salah ngeja nama belakangku dengan ALISHA. bukan Alisia. pasti susternya bilang gitu. kebetulan kemarin di ruang ICU ada 2 orang yang namanya sama. aku dan Defha Alisha. tapi Defha Alisha meninggal karena serangan jantung mendadak. dan kamu tau? dia itu sudah agak tua. dan bukan anak remaja berumur 18 tahun. jadi kamu jangan sedih." jelas Defha.

      Dengan setengah tidak percaya, Farel berlari kearah Defha lalu memeluk Defha erat. "Aku minta maaf soal semuanya. aku minta maaf. aku nyesel kemarin nggak mbantu kamu, Def!" kata Farel menyesal. "Kamu mau kan jadi pacar aku?" tanya Farel tiba-tiba, sambil melepaskan pelukannya. lalu Defha mengangguk dengan senyuman yang benar benar lebar yang pernah ia buat. akhirnya, mulai hari ini, mereka berpacaran.

                                                   *THE END*

                    "Kamu akan selalu menjadi cahaya di hidupku" -Farel-

Wednesday, April 3, 2013

Information

Sorry for all of my TO BE CONTINUED post, because i'm so tired to write many story at night. except write a story for my blog. i must do many homework from my teacher. so, i'm not just a blogger. but i'm a student too. and i have many homework this week. so appologize me for all of my TO BE CONTINUED post. i'll continue it tomorrow or 2 days after today. thank you for your attention to visit my blog. i'll keep happy and make a fantastic blog. and thanks you have read my posting :))

The Best Medicine

It was nine o'clock in the middle of Manhattan. The smell of a hospital could be so familiar if you're a patient here. A boy walked towards room 213 and asked a nurse, "Is this the room for Andrew Collins?" The nurse came to him and answered, "Yes, and you are welcome to come in."
     Drew smiled. "thank you, umm..... what's your name?"
"Elisabeth," the nurse answered. "it's Beth, actually."
        "Thank Beth! anyway, do i have a roomate?" Drew asked, walking to the room. the room's pretty comfortable. it has enough spaces for two patients and their family. A television hangs on the wall. there's a big window beside the bed, which shows how beautiful Manhattan is.
      "Yes! Be quiet, she's asleep at these times." answered Beth.
    "She? my roomate's a woman?" he asked again, but lowering his voice.
    "A girl, to be exact. she's fifteen" whisppered Beth. "now tale a rest. you shouldn't even walkin this condition!"
     "Oh okay, i will" promised Drew. he lies on his bed while beth walked out. "Wow. fifteen! we have thins to talk to. Phew, i thought my roomate was gonna be an old lady talking about the days before independence all the time."
     "Hahahaha" someone giggled/
 "Huh?" he gasped, realizing his roomate was sleeping. "OMG, i woke you up didn't? Oh, i'm sorry!"
      "It;s alright!" answered the girl.
   "you'll forgive me, won't you? i mean, it's not like i ate your dog or something," he said. "i mean, no! i don't eat dogs! especially yours, i mean, i don't even know you have a dog or not! so.... ough. i guess you can ignore that last thing." he continued.
   "Drew! what were you thinking? ate a dog? you don't eat dogs!" Drew whispered to himself. "And that was probably the most awkward thing ever!"
    "Hahaha.... you're funny. i dont even need to see your face!" the girl said.
   "Really?" aked Drew, unvelieving. "You should see Chaplin! he;s so funny and lucky! i tried wearing bigger pants and smaller shirt once, but i didn't work! Hmmmm.., maybe lucky doesn't come from that"
    the girl won't stop laughing. "Hahahaha..... you, you really made my day! i never laughed this much before."
   "Day? it's nine in the morning! and you just woke up a moment ago! how could you call that a day?"
    "It doesn't mean that way!" she said, giggling.
   Her roomate paused. "Really?" asked Drew, confused.
   "Your voice is really innocent. you're funny , and you sounded like you don't even realize you're in a hospital. it's like you're perfectly healthy! why are you here anyway?" asked the girl
   "WELL....i don't really know! my mom says i should stay here for a week, more or less. she wont tell me what happened, ' cause she said she doesnt even know herself. i'm perfectly fine with it, though i sometimes have trouble breathing. woah, and it's happening right now!" explained Drew. after a few seconds, he continued, "Nut look at the bright side, no physics test!"
   the girl laughed again. "you know, i'm so glad i'm not alone anymore now. i broke my leg last week. i was in my ballet club, and , well.... i slipped. silly me."
    "You're a ballerina? that;s so cool! ballet for girls is like basketball for boys, awesome! it's too bad that  you slipped. but it's okay, you won't even know i exist if you hadn't!"  cheered Drew. "By the way, i'me Drew."
   "It's very nice to know you, Drew. I'm kate."
    "hi, Kate! do you have a dog?"
    And the conversation went on. they talked all day. their family, great TV shows, pets, local artist, even how boring mathematic classes are. Kate and Drew both enjoyed their time. they talked about everything, and Kate even discovered a new Knock-knock joke!
   "Okay, that  was awesome. i have never told anyone joke, especially the ones i made my sellf!" said Kate, likes she was very proud of herself.
    "Yeah! and that was extremely funny!" added Drew.
    "Hahaha, great. anyway, do you believe that  poster?" Kate asked.
   Drew looked around the room. there's only one poster there, and it says "Laugh is the bes medicine"
He wasn't so sure, so he said the truth anyway. " Well, no. what if you have lungs disease? wouldn't it be worse if you laughed? that really made me think!"
     "Hahahaha... you have a point there. it couldn've been worse! but honestly, i kind of think it was right. since you came, i feel a lot better. may be i do believe that 'best medicine thing." said Kate.
    "Well, maybe yes.... it's up to you/"
    Drew agreed, though he's still not so sure about that thing. something bothered him, deep inside. he started to think about his mother, who is probably worried about his situation right now. but whatever thet situation is, he;s sure he started to feel it these days.


      A week passed. its winter and things get a lot colder than before. No more colourful leaves to look out the window, but there are various snownmen to laugh at. the winter is different to Drew. everything is freezing instead of just cold. something else is different too, but what? Drew wondered all day.
    "Hey Drew," said Kate, starting the conversation. "Are you sure your mom hasn't thought of your disease yet?"
    Drew was concerned about himself, but he hid it somewhere between his smiles. "Umm... no i guess. i don't even know what could bother me in a perfect winter! i mean, look! even the clouds are smiling! being this tall above the ground is so muc interesting, " lied Drew
    "Yeah, i agree. but i can't see the view, though. the window is on your side of the room!" said Kate. she noticed something was different. she felt her knees moving a little bit. her situation changed, she is better than last month. something else is different too, but what? Kate wondered all day.
   "Do you even notice that we've never seen each other?" asked Kate, breaking the ice.
    "Hey, yeah. i never noticed that!" answered Drew. he yawned. "Hoam, this hot chocolate made me sleepy! i think i need a nap."
    "Oh okay. sure, go ahead." Said Kate.
so Drew had a long nap. Along, long , nap.



    Kate woke up the next day. it feels like she had been sleeping all week. she checked the calendar. "DECEMBER" . she sighed gladly.
"Drew?" she called/
    No answer. maybe hee's still asleep, she thought/ suddenly, Beth came in.
   "Kate! today's the day, honey. you're knees are perfectly okay!"
    Kate looked surprised, like she never wanted for this to happen. Beth carried her down to her wheelchair and pushed her outside. Kate glanced for the last time to room 213.
   Beth pushed her to the lift when she saw an unconscious teenage boy being carried with hospital bed. "Excuse me, ma'am. sir, please let us through. Excuse me." A doctor said, pushhing the poor boy to the other way.
     Kate took a breath. Here goes nothing, She thought.



                                               ~TO BE CONTINUED~
this story i took from my shcool's magazine edition, exactly second edition. thank you for your attention. please leave a comment if i have a problem. :))

“Berkorban demi seorang teman yang sakit parah” - by Dewi Ariyati


Suatu hari di kota Malang hiduplah seorang anak yang kaya raya, tapi sombong, dan suka pamer. Namanya Devon, yang membuatnya menjadi sombong adalah karena dia Ganteng, Kece, dan Kaya.
Devon memasuki ruang kelasnya bersama Reza. Hari ini diawali dengan pelajaran Bu Gea. Yaitu pelajaran bahasa Indonesia. “Oke, hari ini ibu punya tugas khusus untuk kalian semua, yaitu survey tentang penduduk di Indonesia! Ibu akan bagi kelompoknya untuk kalian.” Ujar bu Gea.
“Yah, kok dipilihin seh? Harusnya nggak usah” gumam Devon.
            “Haha, iya! Bener tuh!” sahut Reza.
“Ngikut mulu!”
            Bu Gea membacakan bagian kelompoknya. kelompok Fun3 terdiri dari: Devon, Reza, Kayla, Hasby, Shaza. “Ha? Sama Hasby? Halah.... sama anak aneh itu. Ish!!!” cetus Devon pelan.
            Bel istirahat telah dibunyikan. Hari ini Devon nggak istirahat, karena ada rapat kerja kelompok. Ketuanya Hasby. Hasby, anak aneh, itu hanya kata Devon. Karena, Devon iri sama Hasby.
            “By, gimana ini? Kita survey kemana?” tanya Kayla.
“Um....... gini aja. Gimana kalau kita survey ke daerah gunung bromo?” jawab Hasby.
            “Um.... iya deh! Gimana guys?”
            Semuanya mengangguk setuju. Walaupun terpaksa, Devon tetap mengangguk setuju karena dia nggak mau repot. Setelah rapat ini mereka semua pergi berhamburan ke kantin. Karena mereka sudah lama menahan lapar. Tak lama kemudian bel berbunyi. Di kelas B, kelasnya Devon. Terdengar berisik sekali seperti pasar. Namanya juga kelas yang lagi nggak ada gurunya.
            Pukul 13.00 semua murid dipersilahkan untuk pulang. Devon dan Reza nggak pulang soalnya mereka lagi lesu di pojok lapangan basket melihat Hasby yang sedang bermain basket bersama teman-teman satu timnya. Bermain terus hingga mereka mengeluarkan keringat yang bercucuran. Di tengah mereka istirahat sejenak, Devon menghampiri mereka untuk menantang bermain basket. Tapi 1 lawan 1. Mereka semua kaget. Nggak seperti biasanya Devon menantang mereka untuk bermain basket 1 lawan 1 lagi. Okelah mereka terima tantangan Devon.
            “Oke, Fine! Kita suit ya! yang menang berarti megang bola duluan!” ujar Hasby yang kebetulan kapten tim basket sekolah.
Kemudian mereka melakukan suit dan ternyata yang menang adalah Devon. Pertandingan basket dimulai dengan bola pertama dipegang oleh Devon. Devon melakukan dreebel menuju ring lalu melempar bola dengan three-point tapi nggak masuk. Bola di ambil alih oleh Hasby. Hasby bergerak menuju ring lalu melakukan three-point dan akhirnya MASUKKK!!! Yeay! Hasby melirik sinis kearah Devon. Devon terlihat kesal dan marah-marah.
            “Ayo DEVOONNNN!!!” seru Reza.
 “Resek lo....” cetus Devon dengan suara yang keras.
            Setelah hampir 30 menit bermain, Devon merasa sangat capek sekali, denyut jantung Devon serasa tak beraturan dan Devon baru ingat kalo ternyata dia punya penyakit Jantung yang berat. Devon berlari mengambil air minum dan tas sekolahnya kemudian bergegas pergi meninggalkan lapangan. Dengan pontang-panting Devon terus berjalan dan berlari hingga sampai di halaman sekolah. Dan setelah itu dia mencari obatnya. Tiba-tiba dia terjatuh. Jantungnya terasa sakit sekali. Tapi akhirnya dia menemukan obat untuk penyakitnya, lalu meminumnya. Dan rasa nyeri di jantungnya perlahan menghilang. Lalu dia pulang jalan kaki.
Keesokan harinya Devon datang ke sekolah dengan muka lesu. Berjalan menuju ruang kelasnya. Reza. Ketika ia tiba di kelasnya, tidak ada satupun anak yang menyapanya. Reza, yang sebelumnya duduk di sebelah Devon, sekarang pindah duduk di sebelah Hasby yang awalnya duduk sendirian. Alone! Alone! And alone!
            Saat istirahat tiba, Reza pergi dengan Hasby dkk. Tidak sama Devon lagi yang biasanya menemani istrirahat Reza. Kali ini Devon benar-benar kesepian. Dia jalan menyusuri setiap lorong sekolah. Tidak ada satupun teman sekolahnya yang menyapanya dengan ramah seperti dulu. Tiba-tiba Reza lewat bersama Hasby dkk. “Rez!” panggil Devon.
            Tidak ada balasan sama sekali. Rasanya sapaan Devon menjadi angin yang berlalu begitu saja. Sudahlah, lanjutkan jalan saja. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak Devon, “Von! Kamu kemana aja seh? Ntar pulang sekolah kita ngadain survey di gunung bromo selama 2 hari. Sampe besok!” sahut Kayla.
            “Oke, Kay!” jawab Devon singkat. Akhirnya, ada juga yang mau menyapanya. J .
            Sepulang sekolah, Devon pulang dulu mengambil pakaian. Lalu ia berangkat ke sekolah, tempat kumpul. Dengan naik sepeda, “Ma, berangkat!”
            Disekolah Hasby, Reza, Kayla, dan Shaza sudah menunggu sejak lama. Dan Devon baru saja datang dengan santai. “Eh, lu kalau ada janji datang yang tepat waktu dong. Jangan molor!! Lama yang nungguin nih.” Ujar Hasby.
            “Terus? Masalah buat lo? Enggak kan?” jawab Devon.
“Aishhhh.... sudah-sudah! Kalian ini banyak omong. Ayo cepet, ntar kita telat nih,!” sahut Shaza di tengah keributan Hasby dan Devon.
            Mereka bersepeda menuju gunung Bromo dengan riangnya sambil bernyanyi-nyanyi. Tapi Devon tidak, karena dia tau. Denyut jantungnya mulai tak beraturan dan terasa nyeri. Walaupun tinggal sedikit lagi mereka akan sampai ditempat tujuan mereka. Devon tertinggal paling belakang sendiri. Sedikit demi sedikit, rasa nyeri itu bertambah semakin kuat. Tapi, tak lama kemudian mereka semua sampai di desa yang mereka tuju, desa yang berdekatan dengan gunung Bromo. Devon berhenti dan langsung terjatuh ke tanah. “DEVONN!!” teriak Shaza kaget.
 “Alah..... paling-paling juga dia cuman pura-pura.” Ujar Reza.
            “Rez, dia temen kita juga. Kamu nggak boleh gitu lah Rez!” sahut Hasby.
“Hei, kalian yang bener aja! Denyut nadi dan jantungnya lemah tau!!” seru Shaza dan Kayla.
            “Hah? Serius kalian? Cepet bawa ke rumah sakit atau puskesmas terdekat di daerah sini” sahut Hasby lagi.
            Hasby berlari kearah desa. Bertanya-tanya dimana puskesmas atau rumah sakit terdekat. Lalu Devon di bawa kesana. Untuk diperiksa dan dirawat.
Setelah diperiksa oleh dokter yang ada di puskesmas. Dokter tersebut keluar untuk bicara dengan teman-teman Devon. “Kalian tau, penyakit apa yang di miliki Devon?” tanya Dokter tersebut.
            Semuanya menggeleng. Dokter Rianti, dokter yang memeriksa Devon barusan. Menghela nafas dalam-dalam. Lalu menjawab, “Devon memiliki penyakit Jantung.”
 “APAAA???” semuanya berteriak kaget kearah dokter Rianti.
            “Nggak, gak mungkin dok!” ujar Shaza.
Keesokan harinya, Kelompok Fun3 melakukan penelitian di setiap rumah yang ada di desa tersebut. Ternyata penerangan di desa tersebut masih sangat minim. Padahal kebutuhan listrik di desa ini itu sangat banyak, bagaimana cara anak-anak mereka belajar? Lalu mereka melakukan wawancara dengan kepala desa. Sedangkan yang lain menuliskan hasil wawancara tersebut di atas buku. Setelah melakukan wawancara dengan pak kepala desa, mereka semua beres-beres untuk segera pulang dari desa di gunung Bromo ini dengan naik sepeda. Diam-diam Hasby menulis surat untuk mamanya, Dia sendiri tidak tau kenapa dia menulis surat itu. Isi suratnya Hasby ingin jika dia sudah tiada, jantungnya diberikan kepada Devon, yang kebetulan mempunyai penyakit jantung.
            Ternyata setelah pulang dari gunung Bromo. Benar dugaan Hasby, dia mendapat kecelakaan dan akhirnya meninggal. Dan kebetulan juga disaat yang sama, Devon mendapatkan pendonor jantung yang tidak mau diberitahukan kepada Devon identitas pendonor. Seketika itu Devon benar-benar senang, akhirnya dia terbebas dengan penyakit itu. Tapi dia masih heran siapa pendonor jantung itu.
            Keesokan harinya disekolah, semua murid serta guru terlihat gusar dan sedih. Dilapangan basket sekolah tertera tulisan, “Selamat jalan kapten basket!! Kita berharap kamu akan selalu tersenyum untuk kita. J”.  Hah? Maksudnya itu semua apa? Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang memanggil Devon. Dan ternyata itu mamanya Hasby yang kemudian menceritakan semua kejadiannya kepada Devon. Devon setengah tidak percaya. “Tante, tante pasti bohong kan?” ujar Devon dengan geleng-geleng. “Tante pasti BOHONG!”. “Lebih baik aku sakit daripada harus kehilangan teman yang selama ini baik sama aku.”
            “Tapi kamu juga senang kan, bebas dari penyakitnya. Anggap saja, Hasby akan selalu ada dalam diri kamu, karena kamu menggunakan jantungnya. Tante nggak apa kok”
            Kemudian semua murid dan guru sekolah Devon tersenyum dan memeluknya erat-erat. “Kita akan mengingat Hasby jika kita melihat kamu Devon. Jadi janganlah kamu pergi.” Ujar bu Gea.
            Akhirnya, Devon mengerti, bagaimana rasanya memiliki teman dan bagaimana rasanya jadi baik hati. Devon senang, karena walaupun dia jahat dan sombong dengan Hasby, tapi Hasby masih tetap care sama dia.