Saturday, April 20, 2013

The Story of us - by Dewi Ariyati


                   Aku berjalan menelusuri lorong sekolah baruku. Rasanya asing jadi murid baru, baru pertama kali ini aku jadi murid pindahan. Dulu aku sekolah di Jakarta, dan sekarang aku harus pindah sekolah ke Surabaya. Biasanya di Jakarta aku kan ngomong Lo gue Lo gue. Dan kalau ngomong aku kamu di Jakarta pasti kesannya kita di kira pacaran. Tapi di Surabaya kali ini beda, kalau aku ngomong Lo gue jadinya di kira sok gaul. Dan kalau aku ngomong aku kamu, itu kayak terlalu berbahasa Indonesia. Jadinya harus ngomong kon aku tapi aku nggak bisa. Bahasa jawa aja aku nggak tau. Gimana mau ngomong kon aku?
                Ketika aku berjalan mencari ruang kelasku, aku merasa aneh. Karena setiap aku lewat pasti anak-anak di sekolah pada ngelihatin aku. Tetapi aku tidak menghiraukan mereka, aku tetap berjalan mencari ruang kelasku. Tapi aku lupa aku masuk kelas apa ya? akhirnya aku berlari menuju ruang guru untuk bertanya sama guru yang ada.
                “Permisi, Bu! Saya anak baru, ruang kelas saya dimana ya?” tanyaku sopan.
                “Oh, kamu Nabila ya? kebetulan saya wali kelas kamu. Saya bu Andre, mari kamu ikut ibu aja!” jawab bu Andre dengan senyuman berlesung pipit.
                Aku dan bu Andre berjalan menuju ruang kelas baruku. Sembari bel masuk berbunyi. Kemudian speaker di depan kelas berbunyi, “Mari kita berdoa sebelum kita memulai pelajaran!”
                “Kita berhenti sebentar ya! berdoa dulu” Ujar bu Andre.
Aku mengangguk.
                Setelah berdo’a selesai, kami berdua memasuki ruang kelas. Semua murid yang ada di kelas baruku melongo melihatku. Lah, kenapa? Ada yang salah sama aku? Aku melihat diriku sendiri dari kaki hingga atas kepalaku. Perasaan nggak ada yang aneh sama aku.
                “Nab, kamu perkenalkan dirimu dulu!” perintah bu Andre.
                “Hai, teman-teman” kataku mengawali perkenalan dengan semua yang ada di kelas. “Nama gue Nabila Angraeni, lo semua bisa manggil gue Nabila. Gue pindahan SMP Nusa Bakti Jakarta. Salam kenal!”
                “Hah? Gue? Lo? Oala.....” sahut salah satu anak yang ada di kelas itu.
                Lalu bu Andre menyuruh diam semua anak. karena setelah ada yang berkata begitu kelas jadi ribut. Karena Cuma ada 2 bangku yang kosong, aku duduk disitu, sendirian. Tak ada teman.
                “Hai, nama kamu siapa?” tanyaku kepada anak yang ada di depanku.
                “Sekarang kamu, tadi kok lo gue loh?” jawab anak itu ketus.
                Aku menurunkan tanganku yang tadinya menyentuh pundaknya. Aku menggeleng padanya. Kayaknya semuanya pada benci sama aku. Aku menoleh ke arah salah satu anak cowok yang ada di dekat jendela. Nggak sengaja kami bertatapan. Tetapi dia sedang mengobrol degan teman-temannya.
                Bu Andre membiarkan kami ramai sejenak. Dan seketika itu kelas menjadi hening nggak ada suara.
                “Baiklah, semoga kalian dapat berteman baik dengan Nabila ya! hari ini kalian bebas mau ngapain, tapi nggak boleh keluar kelas!” ujar bu Andre. “Oh ya, Nabila, saya guru musik disini.” Lanjutnya sembari menoleh kearahku, lalu meninggalkan kelas.
                Aku tersenyum senang. Aku senang karena ternyata wali kelasku sendiri itu guru musik. Aku jadi murid baru di sekolah ini ketika memasuki semester kedua kelas 10. Masih baru SMA ya.... hehe....
                Tiba-tiba anak yang di depanku tadi mengajakku bicara. “Eh, siapa nama kamu? Nabila ya? di pelajaran musik ini kita ada ensamble loh, tau nggak? Disini ada 3 kelompok, terserah kamu mau masuk kelompoknya siapa. Kalau bisa sih jangan masuk kelompokku ya! namaku Fika.” Ujar Fika.
                “Ya, aku tau kok ensamble itu apa.” Jawabku singkat.
                Setahuku ya, kalau anak baru itu biasanya langung di geromboli sama anak-anak satu kelas, karena penasaran. Tapi kalau ini kok enggak ya? aneh. Aku berdiri dan mencoba bergaul dengan anak-anak yang ada di dekat bangku anak cowok yang bertatapan denganku tadi.
                “Hai, seni musik ada ensamble ya? kalau boleh aku masuk kelompok kalian deh.” Sahut ku di tengah pembicaraan mereka.
                “Ummm... kalau kita sih terserah, coba kamu tanya aja sama cowok-cowok di belakang kita. Dia juga kelompok kita. Ketuanya itu loh yang nyenden di dekat jendela. Oh ya, aku Diana. Salam kenal ya, Nab!” jawab Diana dengan tersenyum.
                Diana sedikit ramah. Nggak kayak anak yang ada di depanku tadi. Kemudian aku berpindah tempat ke anak-anak cowok yang sedang mengobrol. “Um..... katanya seni musik ada ensamble aku boleh gabung sama kelompok kalian nggak?” tanyaku pada mereka.
                “Kalau kita ya, terserah-terserah aja sih. Nggak tau lagi sama Reno pak ketua.” Jawab salah satu dari ke lima cowok yang ada di situ. “Aku Dean.”
                “Oh, okay! Reno yang mana?” tanyaki sedikit bodoh.
                “Itu, yang menyenden di dekat jendela. Aku David.” Jawab David sambil memperkenalkan diri.
                “Nggak bisa. Aku nggak mau ada anak yang nggak suka musik masuk ke kelompok kita. Percuma!” jawab Reno ketus.
                Aku melongo melihat jawaban Reno. Ih, jahat banget. Ternyata anak yang bertatapan sama aku tadi sifatnya angkuh. Nyesel aku.
                “Emang kamu tau dari mana?” balasku kembali ketus.
                “WAJAHMU, orang JAKARTA!” jawab Reno dan segera pergi meninggalkan bangkunya.
                “Woy Ren. Kemana?” tanya David.
                “Kamar mandi!” jawab Reno singkat.
                Dia benci aku ya, kok sampai sebegitunya? Yaasudahlah aku ke kelompok lain aja deh. “Eh, tunggu-tunggu.” Ujar Fred sembari memegang tanganku erat sesaat setelah aku berniat berpaling dari tempat duduk mereka.
                “Kamu suka musik? Kalau iya, kamu buktikan sama Reno kalau kamu memang bisa. Terserah kamu mau drama atau apa. Reno orang nya memang gitu. Sulit menerima orang baru di kelompoknya. Tapi dia termasuk gitaris kece di kelompok kami. Jadi kamu ikut kelompok kita aja, nggak apa” jelas Fred.
                Aku mengernyitkan dahi. Dan Fred mengangguk dengan pasti. “Okelah, kalau boleh sih, ya nggak apa!”
                                                ************
                Aku mendengar suara orang marah-marah di kelas. Setelah aku datang semuanya terdiam. “Fred! Awas kamu!” ancam Reno lalu bergegas meninggalkan ruang kelas.
                Aku terdiam melihatnya keluar kelas dan pergi entah kemana. Fred menatapku dengan mata mengeluh. Pasti mereka bertengkar gara-gara aku.
                “Eh, Nabila! Kamu dengerin aku ya! KAMU ITU PEMBUAT MASALAH! DENGAN MASUK DI KELOMPOKNYA RENO! GARA-GARA KAMU, RENO SAMA FRED YANG AWALNYA BERTEMAN BAIK, SEKARANG JADI MUSUHAN!” sahut Fika dengan nada marah, lalu lagi-lagi dia pergi dari kelas.
                Aku bingung, apa yang harus aku lakuin. Sepertinya aku Cuma pembawa masalah di kelas ini. Mereka semua nggak ngerti aku.
                Dan kebetulan hari ini adalah pelajaran olahraga. Aku senang karena materi hari ini adalah BASKET. Yihaa..... dulu waktu SMP aku kapten basket sekolah loh.. *Sombong*
                “Baik anak-anak, saya dengar ada murid baru ya?” tanya guru olahraga.
                “Iya paaakkkk!” semua anak menjawab, kecuali golongan Fika, dan Reno seorang.
                “Mana? Coba angkat tangan!” perintah guru olahraga.
                Aku mengangkat tangan. Kemudian guru itu menyuruhku ke depan. Dan aku mengikuti perintahnya.
                “Kamu belum tau nama saya kan? Saya Pak Arif. Saya guru olahraga sekaligus ekskul basket. Sekarang saya mau tes kemampuan basket kamu!” ujar pak Arif.
                yes . pikirku. Aku bisa buktikan ke Reno kalau aku bukan cewek yang harus direndahkan. Jujur aku baru tau sekarang, kenapa anak-anak pada benci sama aku. Aku lupa kalau setiap ke sekolah aku selalu memakai kacamata yang besar, dan itu membuatku terlihat culun. Gayaku pun menyertaiku. Aku lagi bergaya culun kalau di sekolah. Tapi sebenarnya aku nggak culun kok. Aku cuman drama, biar tau siapa yang benar-benar bisa jadi teman sejatiku, tapi nyatanya nggak ada.
                Pak Arif memberiku bola basket melemparkannya dengan gaya chest-pass. Dan aku berhasil menangkap bola itu. Tapi nggak ada satu pun anak yang terkejut. Mungkin bagi mereka menangkap bola adalah hal yang bisa dilakukan oleh semua orang.
                Pertama-tama, pak Arif menyuruhku men-dribble bola. Pura-pura nggak bisa atau bisa aja ya? bisa aja deh, entar malah banyak yang nggak suka sama aku karena drama bodoh ku ini.pikirku.
                “Woy buruan, nggak bisa ya? masak nge-dribble aja nggak bisa?” sahut Reno mengejekku. Karena aku nggak segera men-dribble­  bola itu.
                Aku melirik sinis kearah Reno. Lalu aku mulai men-dribble nya. Reno terkejut dan berbisik ke teman sebelahnya, tepatnya David sambil nunjuk aku. “Leh, arek iku isok, Vid! Kirakno gak isok!” seru Reno.
                Aku diam saja melihat mereka menertawakanku. Kemudian pak Arif menyuruhku lay-up. Nah ini bagian yang kusuka dari basket. Aku serasa bisa terbang kalau lagi lay-up.
                “Culun mana bisa LAY UP??” sahut Fika sinis.
                “Fika! Jaga omonganmu!” sentak pak Arif.
                Aku mencoba melakukan lay-up. Dan melirik ke arah Reno melihat matanya yang seperti mengatakan. “Mundur aja deh. Kamu loh culun! Nggak usah sok sok bisa!”
                Tapi nggak ada yang tau kalau dulu aku itu kapten tim basket. Jadi silahkan aja tertawa sesuka kalian. Toh, nyatanya aku bisa main basket. Dan layup ku kali ini adalah layup yang terindah sepanjang sejarah aku main basket.          
                Sekali lagi aku berhasil membuat Reno terkejut. Hihihi...... lihat aja nanti.
                Pelajaran olahraga hari ini sangat menyenangkan bagiku. Timku berhasil menang dari tim Reno. Sang kapten basket sekolah, yang aku baru tau setelah aku mengalahkannya. Ceritanya, mainnya ini cewek lawan cowok.   
                “Gila, ternyata Nabila itu bisa main basket! Masa dia bisa ngalahin Reno sih.!” Ujar Gerald.
                Reno tersenyum kecut.
                Reno dan kawan-kawannya dijuluki 5 sekawan. Karena memang dia dan sahabat-sahabatnya ada 5 orang. Yaitu, Reno, Gerald, David, Fred, dan Dean. Mereka nggak pernah bisa di lepaskan.
                Setelah olahraga, kami kembali melanjutkan pelajaran. Yaitu pelajaran Bahasa Inggris. Di sela-sela Miss Helena menerangkan, aku menatap ke arah Reno yang menurutku dari tadi melihatku. Dengan tatapan mata yang tajam, datar, mengeluh, marah, pokoknya campur-campur deh. “Reno! Coba jelaskan apa yang saya terangkan tadi! Jangan lihat ke arah Nabila terus dong!” sahut Miss Helena yang mengetahui Reno melihatku.
                “Mana mungkin Reno ngelihatin Nabila, paling-paling sebenarnya dia ngelihatin aku!” bisik Fika ke teman sebangkunya, Rara. Yang kemudian diikuti Rara dengan menatapku sinis.
                “Maaf..... Miss! Tapi saya tadi tidak mendengarkan!” Jawab Reno ketakutan.
                “Saya nggak mau tahu. Pokoknya kamu harus menjelaskan apa yang saya terangkan.”
                Reno berjalan maju kedepan kelas dengan muka lusuh. “Ada yang mau membantu?” tanya Miss Helena.
                Fika mengangkat tangannya. “Saya dengan senang hati membantu Reno bu!” jawab Fika.
                “Kamu? Um..... tapi kamu tadi mendengarkan! Lebih baik Nabila saja yang dari tadi juga melihat ke arah Reno.” Ujar Miss Helena.
                “WHAT THE HELL?” kataku kaget. Disertai dengan ledakan tawa satu kelas. “Kok aku sih, Miss?” lanjutku.
                “Ya, karena kamu dari tadi nggak fokus.”
                Akhirnya aku maju dengan berat hati dan menjelaskan semua yang diterangkan Miss Helena.
                “Huh, Nabila lagi, Nabila lagi....” gumam Fika.
                Reno melongo melihatku menerangkan semua yang sudah di jelaskan Miss Helena. “Eh, bukannya kamu dari tadi ngelihatin aku? Tapi kok kamu bisa jelaskan semua yang sudah di jelaskan Miss Helena?” tanya Reno.
                Aku menutup spidol papan tulis yang kupengang. Melepas kacamataku lalu menjawab, “Lagian, siapa yang ngelihatin kamu? Aku loh ndengerin Miss Helena. Miss Helena aja yang ngirain aku ngelihatin kamu. GR!”
                “Tapi tadi aku juga lihat kalau kamu ngelihatin aku?” tanyanya lagi. Tapi aku keburu duduk dibangku ku .
                Miss Helena diam saja lalu menyuruh Reno duduk.
                                                                *********
                2 bulan telah berlalu, aku dan Reno tetap bermusuhan. Dan hari ini adalah jadwal ulangan ensamble. Bu Andre menyuruh kami berkumpul di ruang musik.
                “Ya, hari ini kita ulangan ensamble ya! sudah siap kan?” tanya bu Andre.
                Kami mengangguk.
                Kelompokku dapat giliran ketiga, dan itu membuat kami lega. “Hei, nanti yang serius ya kalau maju.” Ujar Reno kepada kami semua.
                Kami mengangguk pasti.
                Kelompokku terdiri dari Salsa (pianika), Dea (Pianika), Fara (Recorder), Jessica (recorder), Silvi (pianika), David (Drum), Dean (pianika), Gerald (pianika), Reno (gitar), Fred (recorder), aku (recorder). “Woy, Nab! Nanti kalau maju kacamatamu lepas aja lah!” sahut Reno di tengah lamunanku.
                “Hah? Dilepas? Buat apa? Gak mau ah!” tolak ku.
                “Biar kita semua kompak nggak pake kacamata, Nabila!” jelas Reno.
                “Ekhm.... Ekhm..... ada yang pedekate nih.” Sahut Dean.
                “Hei, lo gila? Gue musuk dia bukan pacar dia!” jawabku.
                “Eh, siapa juga yang mau pedekate sama culun ini? Kakek lo?” ujar Reno.
                “Wososos! Santai mas bro mbak bro! Saya bercanda.”  Sahut Dean. Lalu melanjutkan, “BTW, Ren! Kok kamu sekarang jadi agak lembutan gitu ya? perasaan dulu kalau di gituin, muarah banget dan berniat membunuhku?”
                “Ha?” jawab Reno.
                Aku tertawa kecil. “Jangan ketawa kamu!” seru Reno marah.
                Nggak sadar, giliran kami tiba. Kami membawakan lagu Taylor Swift- you belong with me.  “Dia keren” gumamku setelah lagunya habis. Eh, kok tiba-tiba gue bilang dia keren sih? Salah.  Pikirku.
                Dikelas, “Fika mana Fika?” tanya Dean.
                “HAI AKU DISINI. Ada apa Dean?” jawab Fika dengan senyuman nggak jelas.
                Aku lagi menulis puisi di belakang tempat duduk Fika. Melihat Fika yang kegatelan itu. “Fik, Di sukai sama Reno!” jawab Dean.
                “Enggak kok Enggak!” sahut Reno dengan senyum senyum.
                Tiba-tiba dadaku terasa sesak mendengar hal itu dan melihat Reno yang sepertinya benar-benar suka Fika. Aku melihat ke arah Reno, dan Reno menatapku balik. Apa mungkin ini........ enggak enggak, nggak mungkin. Nggak mungkin aku suka sama Reno. Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi.
                Aku berlari keluar kelas, menuju ruang guru. Dan meminta izin kepada bu Andre untuk meminjam Piano di ruang musik, dan bu Andre mengizinkannya.
                Aku segera pergi ke ruang musik untuk bermain piano. Aku memainkan lagu Taylor Swift – you belong with me. Dengan menyanyikan liriknya.

You're on the phone with your girlfriend, she's upset
She's going off about something that you said'
Cause she doesn't get your humor like I do
I'm in the room, it's a typical Tuesday night
I'm listening to the kind of music she doesn't like
And she'll never know your story like I do
But she wears short skirts, I wear T-shirts
She's Cheer Captain and I'm on the bleachers
Dreaming about the day when you wake up and findThat what you're
 looking for has been here the whole time
If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why can't you see?
You, you belong with me, you belong with me

Walking the streets with you and your worn-out jeans
I can't help thinking this is how it ought to be
Laughing on a park bench, thinking to myselfHey, isn't this easy?

And you've got a smile that could light up this whole town
I haven't seen it in a while since she brought you down
You say you're fine, I know you better than that
Hey, what ya doing with a girl like that?
She wears high heels, I wear sneakers
She's Cheer Captain and I'm on the bleachers
Dreaming about the day when you wake up and find
That what you're looking for has been here the whole time
If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why can't you see?You belong with me

Standing by and waiting at your back door
All this time how could you not know?
Baby, you belong with me, you belong with me

Oh, I remember you driving to my house in the middle of the night
I'm the one who makes you laugh when you know you're 'bout to cry
And I know your favorite songs and you tell me 'bout your dreams
Think I know where you belong, think I know it's with me

Can't you see that I'm the one who understands you?
Been here all along, so why can't you see?
You belong with me

Standing by and waiting at your back door
All this time, how could you not know?Baby,
 you belong with me, you belong with me

You belong with me
Have you ever thought just maybe
You belong with me?
                Aku nggak menyadari kalau aku menangis, mataku mengeluarkan air mata. Aku kenapa? Kenapa aku begini. Aku menutup piano itu. Dan duduk sebenta di depannya. Menangis dan nggak berhenti. Aku menangis kenapa? Nggak mungkin hanya karena dengar Reno suka sama Fika.
                Aku mengusap air mataku dan bergegas pergi meninggalkan ruang musik. Ketika aku sampai di depan kelas aku di cegat sama Reno, aku menatapnya heran. “Kamu tadi yang main piano di ruang musik kan?” tanya Reno.
                Aku menggeleng, dan segera melewatinya. Tetapi Reno mengikutiku. “Jawab aja apa susahnya sih, Nab?” tanya Reno lagi.
                Tetapi aku tetap merunduk, meletakkan kepalaku di atas meja. “Haduh, Reno! Kamu kan udah jadi pacar aku. Jadi kamu nggak boleh deket-deket sama dia dong.!” Sahut Fika yang tiba-tiba datang.
                Kemudian Reno meninggalkanku. Dan pergi dengan Fika.
                Aku nggak tau apa yang terjadi hari ini. Kenapa aku menangis saat aku mendengar Reno suka Fika. Aku mengambil gitar di kamar adik, kebetulan gitarku tadi di pakai sama dia. Dan lagi-lagi aku memainkan lagu YOU BELONG WITH ME. Ketika aku keasyikan memainkan lagu itu. Telponku berdering. “Halo, ada apa Sal?” tanyaku di telpon. Ternyata yang menelpon Salsa.
                “Nab! Kita hangout ya. aku mau cerita nih! Aku boleh kerumahmu kan sekarang?” jawab Salsa
                “Um.... iya!”
                Kemudian Salsa menutup telpon.
                Tak lama kemudian Salsa datang sendirian. Masuk ke kamarku. “Haduh,,,,, Nab!!” kata Salsa mengeluh.             
                “Ada apa, Sal?” tanyaku.
                “Reno kok bisa sih jadian sama Fika?” jawab Salsa.
                Aku menggeleng dan seketika mukaku berubah menjadi kusut.
“Eh, kamu megang gitar btw, kamu bisa main gitar?” tanya Salsa.
                “Ya, bisa sih!”
                “Terus kenapa kamu nggak main gitar aja pas ensamble kemarin?” tanya Salsa.
                “Aku males” jawabku singkat.
                “Hey, perasaan gayamu nggak culun deh kalau dirumah? Dan cara bicaramu juga biasa?” tanya Salsa lagi.
                “Oke, aku mau cerita. Tapi kamu janji ya jangan bilang ke siapa-siapa.”
                Salsa mengangguk.
                “Sebenarnya, aku itu memang nggak culun.” Salsa terkejut. “Aku itu Cuma drama. Maaf, Sal! Aku drama soalnya aku pengen punya temen yang bener-bener baik. Nggak cuman manfaatin aku.” Jelasku. “Dulu waktu SMP, aku punya teman. Ya kayak kalian gitu. Tapi, mereka cuman manfaatin aku doang.”
                “maksudnya?” tanya Salsa.
                “Jadi, dulu aku itu famous lah di sekolah. Bukannya sombong loh ya! dulu aku itu kapten tim basket sekolah, dan aku juga gitaris band sekolah. Dan aku itu dulu suka nulis lagu. Tapi setelah lama, aku baru tau kalau teman-temanku itu hanya manfaatin famousku, biar mereka bisa famous juga. Terus mereka juga mencuri laguku dan ngaku kalau itu dia yang mengarang. Munafik banget nggak sih?”
                “Iya, sih! Kok gitu temanmu?”
                “Aku sendiri nggak tau.”
                Kemudian Salsa terdiam sejenak, “Sal, kamu suka Reno ya?” tanyaku.
                “Hah? Ya enggaklah. Jujur deh, Nab! Aku itu nggak suka Reno. Cuman aku heran aja sama anak itu. Perasaan dia nggak suka cewek yang kayak Fika. Tapi kok tiba-tiba dia suka.” Jawab Salsa.
                “Lalu?”
                “Kamu mungkin yang suka sama Reno?” tanya Salsa balik.
                “Apa?? Kamu gila? Dia kan musuhku...” jawabku.
                Salsa menatap mataku dalam-dalam. “Nggak usah pake bohong, Nab! Matamu bilang kamu suka dia kok. Dan aku tau, kemarin kamu nangis kan di ruang musik?” tanya Salsa lagi
                Aku menggeleng. Salsa tersenyum.
********
                Fika adalah kapten cheerleaders di sekolah. Dia memang lebih keren dari aku. Tapi aku pikir dia nggak lebih baik dari aku.
                “Nab!” panggil seseorang di sampingku.
                “Apa?” tanyaku.
                Reno menggeleng. Lalu pergi meninggalkanku sendirian.
                 Hari ini papa ngajak aku jalan-jalan keliling kota. Dan ketika hendak pulang tiba-tiba rem mobil papa blong. Dan akhirnya kami menabrak pohon. Kepala papa berdarah. Begitu juga dengan hidungku. Aku mimisan.
                Setelah itu aku nggak tau apa yang terjadi, tetapi aku sudah berada di rumah sakit dengan Reno yang duduk di sampingku.
                Aku terkaget, dan segera berdiri dari ranjangku. Mengusap wajahku, “Reno?? Kok kamu ada disini?” tanyaku.
                “Syukurlah kamu sudah sadar, kalau begitu aku pulang dulu ya!” jawab Reno.
                “Loh Ren! Kamu belum jawab pertanyaanku,” seruku.
                Tapi dia tetap meninggalkanku dan sebelum ia menutup pintu kamar rumah sakit ku ia tersenyum kecil.
                Reno berjalan melewati jembatan dan berhenti sejenak. Kemudian ia melemparkan kapal-kapalan dari kertas ke sungai itu. Kemudian meninggalkan jembatan tersebut untuk segera pulang.
                Tak disangka, Salsa menemukan kapal tersebut, lalu mengambilnya. Dan membukanya menjadi selembar kertas berisi tulisan.
Dear Nabila,
                Cepet sembuh ya! aku menunggumu untuk kembali ke sekolah. Dan aku beritau ke kamu kalau aku sudah putus sama Fika sejak aku tiba-tiba memanggilmu lalu ketika kamu tanya apa, aku menggeleng dan pergi meninggalkanmu. Aku nggak tau kenapa, akhir-akhir ini aku sering memikirkanmu. Salsa cerita sama aku, katanya kamu nangis gara-gara aku jadian sama Fika ya? aku minta maaf  soal itu, Nab!
                Siapapun yang menemukan surat ini, kumohon jangan beritau ke Nabila. Makasih. RENO.
                “Bener kan dugaanku.” Gumam Salsa setelah membaca surat itu.
                Keesokan harinya aku mulai masuk sekolah. Dan semua anak di kelas menyambutku dengan gembira. “Selamat datang kembali di sekolah, Nabila!” ujar Salsa.
                Aku tersenyum.
                “Woy, buat apa sih ini ? nggak guna!” Sahut Fika sinis. “Eh, ntar malem aku ngadain pesta prom night. Pada dateng ya! harus pake gaun buat yang cewek, yang cowok terserah.” Lanjut Fika.
                “Prom night?” gumamku.
                Reno tanya ke aku lewat secarik surat. Kamu datang?  Lalu aku membalas, kayaknya enggak, aku ada acara malam ini. Tak lama kemudian ada balasan lagi dari Reno. Wish you were! . maksudnya apa? Kemudian aku membuka buku laguku yang paling akhir, dan aku melihat ada tulisan I LOVE YOU, RENO . sepertinya aku harus berpikir lagi.
                Jam menunjukkan pukul 7 malam, dan pesta prom night nya sudah dimulai. Tapi aku masih berpikir, aku datang apa enggak.
                Aku pergi ke pesta prom night, jam 7 lebih 15 menit. Dengan memakai gaun yang baru dibelikan mama kemarin. Tanpa kacamata, dan rambut yang diurai.
                Semua anak yang ada di dalam, melihatku dengan melongo. Dan aku melihat Reno berjalan kearahku sambil tersenyum. Tetapi Fika mencegahnya, “Dansa yuk, Ren!” ajak Fika.
                Aku terdiam di depan mereka. “Maaf, aku dansa sama Nabila aja. Malam ini dia cantik banget.” Jawab Reno. Kemudian ia berjalan kearahku sambil membuka secarik kertas yang bertuliskan I LOVE YOU dan menunjukkannya padaku. Kemudian aku membuka buku laguku yang paling belakang dan menunjukkannya ke Reno. Kemudian Reno tersenyum dan aku pun sama. Kami pun berdansa.
                “Untuk melengkapi acara malam ini, aku mau salah satu dari kalian untuk menyanyikan sebuah lagu di sini. Aku panggil, Nabila.” Ujar Fika yang membuka acara.
                Semuanya terpusat ke arahku yang berdiri di samping Reno. “Aku?” tanyaku memastikan. “Yap kamu!” jawab Fika.
                Huh,.... kamu udah ngerebut Reno dari aku, Nab! Kali ini aku akan membuatmu malu di depan semua anak. karena kamu nggak bisa bernyanyi ataupun bermain alat musik. Pikir Fika.
                “Harus memainkan alat musik sendiri” tambah Fika.
                Kemudian aku mengambil gitar akustik listrik yang ada di samping panggung dan membawanya ke atas panggung.
                “Aku akan menyanyikan sebuah lagu, karanganku sendiri. Lagu ini di tujukan untuk seseorang.” Kataku memberitahukan sembari tersenyum ke arah Reno.
                Aku mulai melantunkan gitar dan mulai bernyanyi,
THANK YOU FOR THIS BROKEN
When first day of school
You looked at me so serious
I dont know why
But my heart says that he’s awesome
And then, when i know your attitude
I resigned
Then we were hostile
Fight everyday, never stop
Debate everyday, never stop
I say we just a friend, you underestimate me
Because i’m an autism girl, you think
Actually i’m not, i’m normal
Like other, like other.
One day when i hear you love a cheer captain, my heart crying
My heart crying, my piano crying, my guitar crying
My heart broken, i say i hate today.
Actually i love you, but i never know if i love you
Thanks for this broken
I say thank you.
End
                Standing applause dilakukan semua anak yang ada di acara ini. Dan aku benar-benar senang hari ini. Mulai hari ini, nggak ada satu pun anak yang meremehkanku, menghinaku, memanfaatkanku. Hanya saja, Fika masih benci sama aku.
                THE END

No comments:

Post a Comment