Aku
berjalan menelusuri lorong sekolah baruku. Rasanya asing jadi murid baru, baru
pertama kali ini aku jadi murid pindahan. Dulu aku sekolah di Jakarta, dan
sekarang aku harus pindah sekolah ke Surabaya. Biasanya di Jakarta aku kan
ngomong Lo gue Lo gue. Dan kalau
ngomong aku kamu di Jakarta pasti
kesannya kita di kira pacaran. Tapi di Surabaya kali ini beda, kalau aku
ngomong Lo gue jadinya di kira sok
gaul. Dan kalau aku ngomong aku kamu, itu
kayak terlalu berbahasa Indonesia. Jadinya harus ngomong kon aku tapi aku nggak bisa. Bahasa jawa aja aku nggak tau. Gimana
mau ngomong kon aku?
Ketika
aku berjalan mencari ruang kelasku, aku merasa aneh. Karena setiap aku lewat
pasti anak-anak di sekolah pada ngelihatin aku. Tetapi aku tidak menghiraukan
mereka, aku tetap berjalan mencari ruang kelasku. Tapi aku lupa aku masuk kelas
apa ya? akhirnya aku berlari menuju ruang guru untuk bertanya sama guru yang
ada.
“Permisi,
Bu! Saya anak baru, ruang kelas saya dimana ya?” tanyaku sopan.
“Oh,
kamu Nabila ya? kebetulan saya wali kelas kamu. Saya bu Andre, mari kamu ikut
ibu aja!” jawab bu Andre dengan senyuman berlesung pipit.
Aku dan
bu Andre berjalan menuju ruang kelas baruku. Sembari bel masuk berbunyi.
Kemudian speaker di depan kelas berbunyi, “Mari kita berdoa sebelum kita
memulai pelajaran!”
“Kita
berhenti sebentar ya! berdoa dulu” Ujar bu Andre.
Aku mengangguk.
Setelah
berdo’a selesai, kami berdua memasuki ruang kelas. Semua murid yang ada di
kelas baruku melongo melihatku. Lah, kenapa? Ada yang salah sama aku? Aku
melihat diriku sendiri dari kaki hingga atas kepalaku. Perasaan nggak ada yang
aneh sama aku.
“Nab,
kamu perkenalkan dirimu dulu!” perintah bu Andre.
“Hai,
teman-teman” kataku mengawali perkenalan dengan semua yang ada di kelas. “Nama
gue Nabila Angraeni, lo semua bisa manggil gue Nabila. Gue pindahan SMP Nusa
Bakti Jakarta. Salam kenal!”
“Hah?
Gue? Lo? Oala.....” sahut salah satu anak yang ada di kelas itu.
Lalu bu
Andre menyuruh diam semua anak. karena setelah ada yang berkata begitu kelas jadi
ribut. Karena Cuma ada 2 bangku yang kosong, aku duduk disitu, sendirian. Tak
ada teman.
“Hai,
nama kamu siapa?” tanyaku kepada anak yang ada di depanku.
“Sekarang
kamu, tadi kok lo gue loh?” jawab anak itu ketus.
Aku
menurunkan tanganku yang tadinya menyentuh pundaknya. Aku menggeleng padanya.
Kayaknya semuanya pada benci sama aku. Aku menoleh ke arah salah satu anak
cowok yang ada di dekat jendela. Nggak sengaja kami bertatapan. Tetapi dia
sedang mengobrol degan teman-temannya.
Bu
Andre membiarkan kami ramai sejenak. Dan seketika itu kelas menjadi hening
nggak ada suara.
“Baiklah,
semoga kalian dapat berteman baik dengan Nabila ya! hari ini kalian bebas mau
ngapain, tapi nggak boleh keluar kelas!” ujar bu Andre. “Oh ya, Nabila, saya
guru musik disini.” Lanjutnya sembari menoleh kearahku, lalu meninggalkan
kelas.
Aku
tersenyum senang. Aku senang karena ternyata wali kelasku sendiri itu guru
musik. Aku jadi murid baru di sekolah ini ketika memasuki semester kedua kelas
10. Masih baru SMA ya.... hehe....
Tiba-tiba
anak yang di depanku tadi mengajakku bicara. “Eh, siapa nama kamu? Nabila ya?
di pelajaran musik ini kita ada ensamble loh, tau nggak? Disini ada 3 kelompok,
terserah kamu mau masuk kelompoknya siapa. Kalau bisa sih jangan masuk kelompokku
ya! namaku Fika.” Ujar Fika.
“Ya,
aku tau kok ensamble itu apa.” Jawabku singkat.
Setahuku
ya, kalau anak baru itu biasanya langung di geromboli sama anak-anak satu
kelas, karena penasaran. Tapi kalau ini kok enggak ya? aneh. Aku berdiri dan
mencoba bergaul dengan anak-anak yang ada di dekat bangku anak cowok yang
bertatapan denganku tadi.
“Hai,
seni musik ada ensamble ya? kalau boleh aku masuk kelompok kalian deh.” Sahut
ku di tengah pembicaraan mereka.
“Ummm...
kalau kita sih terserah, coba kamu tanya aja sama cowok-cowok di belakang kita.
Dia juga kelompok kita. Ketuanya itu loh yang nyenden di dekat jendela. Oh ya,
aku Diana. Salam kenal ya, Nab!” jawab Diana dengan tersenyum.
Diana
sedikit ramah. Nggak kayak anak yang ada di depanku tadi. Kemudian aku
berpindah tempat ke anak-anak cowok yang sedang mengobrol. “Um..... katanya
seni musik ada ensamble aku boleh gabung sama kelompok kalian nggak?” tanyaku
pada mereka.
“Kalau
kita ya, terserah-terserah aja sih. Nggak tau lagi sama Reno pak ketua.” Jawab
salah satu dari ke lima cowok yang ada di situ. “Aku Dean.”
“Oh,
okay! Reno yang mana?” tanyaki sedikit bodoh.
“Itu,
yang menyenden di dekat jendela. Aku David.” Jawab David sambil memperkenalkan
diri.
“Nggak
bisa. Aku nggak mau ada anak yang nggak suka musik masuk ke kelompok kita.
Percuma!” jawab Reno ketus.
Aku
melongo melihat jawaban Reno. Ih, jahat banget. Ternyata anak yang bertatapan
sama aku tadi sifatnya angkuh. Nyesel aku.
“Emang kamu tau dari mana?” balasku kembali ketus.
“Emang kamu tau dari mana?” balasku kembali ketus.
“WAJAHMU,
orang JAKARTA!” jawab Reno dan segera pergi meninggalkan bangkunya.
“Woy
Ren. Kemana?” tanya David.
“Kamar
mandi!” jawab Reno singkat.
Dia
benci aku ya, kok sampai sebegitunya? Yaasudahlah aku ke kelompok lain aja deh.
“Eh, tunggu-tunggu.” Ujar Fred sembari memegang tanganku erat sesaat setelah
aku berniat berpaling dari tempat duduk mereka.
“Kamu
suka musik? Kalau iya, kamu buktikan sama Reno kalau kamu memang bisa. Terserah
kamu mau drama atau apa. Reno orang nya memang gitu. Sulit menerima orang baru
di kelompoknya. Tapi dia termasuk gitaris kece di kelompok kami. Jadi kamu ikut
kelompok kita aja, nggak apa” jelas Fred.
Aku
mengernyitkan dahi. Dan Fred mengangguk dengan pasti. “Okelah, kalau boleh sih,
ya nggak apa!”
************
Aku
mendengar suara orang marah-marah di kelas. Setelah aku datang semuanya
terdiam. “Fred! Awas kamu!” ancam Reno lalu bergegas meninggalkan ruang kelas.
Aku
terdiam melihatnya keluar kelas dan pergi entah kemana. Fred menatapku dengan
mata mengeluh. Pasti mereka bertengkar gara-gara aku.
“Eh,
Nabila! Kamu dengerin aku ya! KAMU ITU PEMBUAT MASALAH! DENGAN MASUK DI
KELOMPOKNYA RENO! GARA-GARA KAMU, RENO SAMA FRED YANG AWALNYA BERTEMAN BAIK,
SEKARANG JADI MUSUHAN!” sahut Fika dengan nada marah, lalu lagi-lagi dia pergi
dari kelas.
Aku
bingung, apa yang harus aku lakuin. Sepertinya aku Cuma pembawa masalah di
kelas ini. Mereka semua nggak ngerti aku.
Dan
kebetulan hari ini adalah pelajaran olahraga. Aku senang karena materi hari ini
adalah BASKET. Yihaa..... dulu waktu SMP aku kapten basket sekolah loh..
*Sombong*
“Baik
anak-anak, saya dengar ada murid baru ya?” tanya guru olahraga.
“Iya
paaakkkk!” semua anak menjawab, kecuali golongan Fika, dan Reno seorang.
“Mana?
Coba angkat tangan!” perintah guru olahraga.
Aku
mengangkat tangan. Kemudian guru itu menyuruhku ke depan. Dan aku mengikuti
perintahnya.
“Kamu
belum tau nama saya kan? Saya Pak Arif. Saya guru olahraga sekaligus ekskul
basket. Sekarang saya mau tes kemampuan basket kamu!” ujar pak Arif.
yes . pikirku. Aku bisa buktikan ke Reno
kalau aku bukan cewek yang harus direndahkan. Jujur aku baru tau sekarang,
kenapa anak-anak pada benci sama aku. Aku lupa kalau setiap ke sekolah aku
selalu memakai kacamata yang besar, dan itu membuatku terlihat culun. Gayaku
pun menyertaiku. Aku lagi bergaya culun kalau di sekolah. Tapi sebenarnya aku
nggak culun kok. Aku cuman drama, biar tau siapa yang benar-benar bisa jadi
teman sejatiku, tapi nyatanya nggak ada.
Pak
Arif memberiku bola basket melemparkannya dengan gaya chest-pass. Dan aku berhasil menangkap bola itu. Tapi nggak ada
satu pun anak yang terkejut. Mungkin bagi mereka menangkap bola adalah hal yang
bisa dilakukan oleh semua orang.
Pertama-tama,
pak Arif menyuruhku men-dribble bola.
Pura-pura nggak bisa atau bisa aja ya?
bisa aja deh, entar malah banyak yang nggak suka sama aku karena drama bodoh ku
ini.pikirku.
“Woy
buruan, nggak bisa ya? masak nge-dribble
aja nggak bisa?” sahut Reno mengejekku. Karena aku nggak segera men-dribble bola itu.
Aku
melirik sinis kearah Reno. Lalu aku mulai men-dribble nya. Reno terkejut dan berbisik ke teman sebelahnya,
tepatnya David sambil nunjuk aku. “Leh, arek iku isok, Vid! Kirakno gak isok!”
seru Reno.
Aku
diam saja melihat mereka menertawakanku. Kemudian pak Arif menyuruhku lay-up. Nah ini bagian yang kusuka dari
basket. Aku serasa bisa terbang kalau lagi lay-up.
“Culun
mana bisa LAY UP??” sahut Fika sinis.
“Fika!
Jaga omonganmu!” sentak pak Arif.
Aku
mencoba melakukan lay-up. Dan melirik
ke arah Reno melihat matanya yang seperti mengatakan. “Mundur aja deh. Kamu loh culun! Nggak usah sok sok bisa!”
Tapi
nggak ada yang tau kalau dulu aku itu kapten tim basket. Jadi silahkan aja
tertawa sesuka kalian. Toh, nyatanya aku bisa main basket. Dan layup ku kali ini adalah layup yang terindah sepanjang sejarah
aku main basket.
Sekali
lagi aku berhasil membuat Reno terkejut. Hihihi...... lihat aja nanti.
Pelajaran
olahraga hari ini sangat menyenangkan bagiku. Timku berhasil menang dari tim
Reno. Sang kapten basket sekolah, yang aku baru tau setelah aku mengalahkannya.
Ceritanya, mainnya ini cewek lawan cowok.
“Gila,
ternyata Nabila itu bisa main basket! Masa dia bisa ngalahin Reno sih.!” Ujar
Gerald.
Reno
tersenyum kecut.
Reno
dan kawan-kawannya dijuluki 5 sekawan.
Karena memang dia dan sahabat-sahabatnya ada 5 orang. Yaitu, Reno, Gerald,
David, Fred, dan Dean. Mereka nggak pernah bisa di lepaskan.
Setelah
olahraga, kami kembali melanjutkan pelajaran. Yaitu pelajaran Bahasa Inggris.
Di sela-sela Miss Helena menerangkan, aku menatap ke arah Reno yang menurutku
dari tadi melihatku. Dengan tatapan mata yang tajam, datar, mengeluh, marah,
pokoknya campur-campur deh. “Reno! Coba jelaskan apa yang saya terangkan tadi!
Jangan lihat ke arah Nabila terus dong!” sahut Miss Helena yang mengetahui Reno
melihatku.
“Mana
mungkin Reno ngelihatin Nabila, paling-paling sebenarnya dia ngelihatin aku!”
bisik Fika ke teman sebangkunya, Rara. Yang kemudian diikuti Rara dengan
menatapku sinis.
“Maaf.....
Miss! Tapi saya tadi tidak mendengarkan!” Jawab Reno ketakutan.
“Saya
nggak mau tahu. Pokoknya kamu harus menjelaskan apa yang saya terangkan.”
Reno
berjalan maju kedepan kelas dengan muka lusuh. “Ada yang mau membantu?” tanya
Miss Helena.
Fika
mengangkat tangannya. “Saya dengan senang hati membantu Reno bu!” jawab Fika.
“Kamu?
Um..... tapi kamu tadi mendengarkan! Lebih baik Nabila saja yang dari tadi juga
melihat ke arah Reno.” Ujar Miss Helena.
“WHAT
THE HELL?” kataku kaget. Disertai dengan ledakan tawa satu kelas. “Kok aku sih,
Miss?” lanjutku.
“Ya,
karena kamu dari tadi nggak fokus.”
Akhirnya
aku maju dengan berat hati dan menjelaskan semua yang diterangkan Miss Helena.
“Huh,
Nabila lagi, Nabila lagi....” gumam Fika.
Reno
melongo melihatku menerangkan semua yang sudah di jelaskan Miss Helena. “Eh,
bukannya kamu dari tadi ngelihatin aku? Tapi kok kamu bisa jelaskan semua yang
sudah di jelaskan Miss Helena?” tanya Reno.
Aku
menutup spidol papan tulis yang kupengang. Melepas kacamataku lalu menjawab,
“Lagian, siapa yang ngelihatin kamu? Aku loh ndengerin Miss Helena. Miss Helena
aja yang ngirain aku ngelihatin kamu. GR!”
“Tapi
tadi aku juga lihat kalau kamu ngelihatin aku?” tanyanya lagi. Tapi aku keburu
duduk dibangku ku .
Miss
Helena diam saja lalu menyuruh Reno duduk.
*********
2 bulan
telah berlalu, aku dan Reno tetap bermusuhan. Dan hari ini adalah jadwal
ulangan ensamble. Bu Andre menyuruh kami berkumpul di ruang musik.
“Ya,
hari ini kita ulangan ensamble ya! sudah siap kan?” tanya bu Andre.
Kami
mengangguk.
Kelompokku
dapat giliran ketiga, dan itu membuat kami lega. “Hei, nanti yang serius ya
kalau maju.” Ujar Reno kepada kami semua.
Kami
mengangguk pasti.
Kelompokku
terdiri dari Salsa (pianika), Dea (Pianika), Fara (Recorder), Jessica
(recorder), Silvi (pianika), David (Drum), Dean (pianika), Gerald (pianika),
Reno (gitar), Fred (recorder), aku (recorder). “Woy, Nab! Nanti kalau maju
kacamatamu lepas aja lah!” sahut Reno di tengah lamunanku.
“Hah?
Dilepas? Buat apa? Gak mau ah!” tolak ku.
“Biar
kita semua kompak nggak pake kacamata, Nabila!” jelas Reno.
“Ekhm....
Ekhm..... ada yang pedekate nih.” Sahut Dean.
“Hei,
lo gila? Gue musuk dia bukan pacar dia!” jawabku.
“Eh,
siapa juga yang mau pedekate sama culun ini? Kakek lo?” ujar Reno.
“Wososos!
Santai mas bro mbak bro! Saya bercanda.”
Sahut Dean. Lalu melanjutkan, “BTW, Ren! Kok kamu sekarang jadi agak
lembutan gitu ya? perasaan dulu kalau di gituin, muarah banget dan berniat
membunuhku?”
“Ha?”
jawab Reno.
Aku
tertawa kecil. “Jangan ketawa kamu!” seru Reno marah.
Nggak
sadar, giliran kami tiba. Kami membawakan lagu Taylor Swift- you belong with
me. “Dia keren” gumamku setelah lagunya
habis. Eh, kok tiba-tiba gue bilang dia
keren sih? Salah. Pikirku.
Dikelas,
“Fika mana Fika?” tanya Dean.
“HAI
AKU DISINI. Ada apa Dean?” jawab Fika dengan senyuman nggak jelas.
Aku
lagi menulis puisi di belakang tempat duduk Fika. Melihat Fika yang kegatelan
itu. “Fik, Di sukai sama Reno!” jawab Dean.
“Enggak
kok Enggak!” sahut Reno dengan senyum senyum.
Tiba-tiba
dadaku terasa sesak mendengar hal itu dan melihat Reno yang sepertinya
benar-benar suka Fika. Aku melihat ke arah Reno, dan Reno menatapku balik. Apa
mungkin ini........ enggak enggak, nggak mungkin. Nggak mungkin aku suka sama
Reno. Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi.
Aku
berlari keluar kelas, menuju ruang guru. Dan meminta izin kepada bu Andre untuk
meminjam Piano di ruang musik, dan bu Andre mengizinkannya.
Aku
segera pergi ke ruang musik untuk bermain piano. Aku memainkan lagu Taylor
Swift – you belong with me. Dengan menyanyikan liriknya.
You're on the phone with your
girlfriend, she's upset
She's going off about something
that you said'
Cause she doesn't get your
humor like I do
I'm in the room, it's a typical Tuesday night
I'm in the room, it's a typical Tuesday night
I'm listening to the kind of
music she doesn't like
And she'll never know your
story like I do
But she wears short skirts, I wear T-shirts
But she wears short skirts, I wear T-shirts
She's Cheer Captain and I'm on
the bleachers
Dreaming about the day when you
wake up and findThat what you're
looking for has been here the whole time
If you could see that I'm the one who understands you
If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why
can't you see?
You, you belong with me, you
belong with me
Walking the streets with you and your worn-out jeans
I can't help thinking this is
how it ought to be
Laughing on a park bench,
thinking to myselfHey, isn't this easy?
And you've got a smile that could light up this whole town
I haven't seen it in a while
since she brought you down
You say you're fine, I know you
better than that
Hey, what ya doing with a girl
like that?
She wears high heels, I wear
sneakers
She's Cheer Captain and I'm on
the bleachers
Dreaming about the day when you
wake up and find
That what you're looking for
has been here the whole time
If you could see that I'm the one who understands you
If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why
can't you see?You belong with me
Standing by and waiting at your back door
All this time how could you not
know?
Baby, you belong with me, you
belong with me
Oh, I remember you driving to
my house in the middle of the night
I'm the one who makes you laugh
when you know you're 'bout to cry
And I know your favorite songs
and you tell me 'bout your dreams
Think I know where you belong,
think I know it's with me
Can't you see that I'm the one
who understands you?
Been here all along, so why
can't you see?
You belong with me
Standing by and waiting at your back door
All this time, how could you
not know?Baby,
you belong with me, you belong with me
You belong with me
Have you ever thought just
maybe
You belong with me?
Aku nggak menyadari kalau aku menangis, mataku mengeluarkan air
mata. Aku kenapa? Kenapa aku begini. Aku menutup piano itu. Dan duduk sebenta
di depannya. Menangis dan nggak berhenti. Aku menangis kenapa? Nggak mungkin
hanya karena dengar Reno suka sama Fika.
Aku mengusap
air mataku dan bergegas pergi meninggalkan ruang musik. Ketika aku sampai di
depan kelas aku di cegat sama Reno, aku menatapnya heran. “Kamu tadi yang main
piano di ruang musik kan?” tanya Reno.
Aku
menggeleng, dan segera melewatinya. Tetapi Reno mengikutiku. “Jawab aja apa
susahnya sih, Nab?” tanya Reno lagi.
Tetapi aku
tetap merunduk, meletakkan kepalaku di atas meja. “Haduh, Reno! Kamu kan udah
jadi pacar aku. Jadi kamu nggak boleh deket-deket sama dia dong.!” Sahut Fika
yang tiba-tiba datang.
Kemudian Reno
meninggalkanku. Dan pergi dengan Fika.
Aku nggak tau
apa yang terjadi hari ini. Kenapa aku menangis saat aku mendengar Reno suka
Fika. Aku mengambil gitar di kamar adik, kebetulan gitarku tadi di pakai sama
dia. Dan lagi-lagi aku memainkan lagu YOU BELONG WITH ME. Ketika aku keasyikan
memainkan lagu itu. Telponku berdering. “Halo, ada apa Sal?” tanyaku di telpon.
Ternyata yang menelpon Salsa.
“Nab! Kita
hangout ya. aku mau cerita nih! Aku boleh kerumahmu kan sekarang?” jawab Salsa
“Um.... iya!”
Kemudian
Salsa menutup telpon.
Tak lama
kemudian Salsa datang sendirian. Masuk ke kamarku. “Haduh,,,,, Nab!!” kata
Salsa mengeluh.
“Ada apa,
Sal?” tanyaku.
“Reno kok
bisa sih jadian sama Fika?” jawab Salsa.
Aku
menggeleng dan seketika mukaku berubah menjadi kusut.
“Eh, kamu megang gitar btw, kamu bisa main gitar?” tanya Salsa.
“Ya, bisa
sih!”
“Terus kenapa
kamu nggak main gitar aja pas ensamble kemarin?” tanya Salsa.
“Aku males”
jawabku singkat.
“Hey,
perasaan gayamu nggak culun deh kalau dirumah? Dan cara bicaramu juga biasa?”
tanya Salsa lagi.
“Oke, aku mau
cerita. Tapi kamu janji ya jangan bilang ke siapa-siapa.”
Salsa
mengangguk.
“Sebenarnya,
aku itu memang nggak culun.” Salsa terkejut. “Aku itu Cuma drama. Maaf, Sal!
Aku drama soalnya aku pengen punya temen yang bener-bener baik. Nggak cuman
manfaatin aku.” Jelasku. “Dulu waktu SMP, aku punya teman. Ya kayak kalian
gitu. Tapi, mereka cuman manfaatin aku doang.”
“maksudnya?”
tanya Salsa.
“Jadi, dulu
aku itu famous lah di sekolah. Bukannya sombong loh ya! dulu aku itu kapten tim
basket sekolah, dan aku juga gitaris band sekolah. Dan aku itu dulu suka nulis
lagu. Tapi setelah lama, aku baru tau kalau teman-temanku itu hanya manfaatin
famousku, biar mereka bisa famous juga. Terus mereka juga mencuri laguku dan
ngaku kalau itu dia yang mengarang. Munafik banget nggak sih?”
“Iya, sih!
Kok gitu temanmu?”
“Aku sendiri
nggak tau.”
Kemudian
Salsa terdiam sejenak, “Sal, kamu suka Reno ya?” tanyaku.
“Hah? Ya
enggaklah. Jujur deh, Nab! Aku itu nggak suka Reno. Cuman aku heran aja sama
anak itu. Perasaan dia nggak suka cewek yang kayak Fika. Tapi kok tiba-tiba dia
suka.” Jawab Salsa.
“Lalu?”
“Kamu mungkin
yang suka sama Reno?” tanya Salsa balik.
“Apa?? Kamu
gila? Dia kan musuhku...” jawabku.
Salsa menatap
mataku dalam-dalam. “Nggak usah pake bohong, Nab! Matamu bilang kamu suka dia
kok. Dan aku tau, kemarin kamu nangis kan di ruang musik?” tanya Salsa lagi
Aku
menggeleng. Salsa tersenyum.
********
Fika adalah
kapten cheerleaders di sekolah. Dia memang lebih keren dari aku. Tapi aku pikir
dia nggak lebih baik dari aku.
“Nab!”
panggil seseorang di sampingku.
“Apa?”
tanyaku.
Reno
menggeleng. Lalu pergi meninggalkanku sendirian.
Hari ini papa ngajak aku jalan-jalan keliling
kota. Dan ketika hendak pulang tiba-tiba rem mobil papa blong. Dan akhirnya
kami menabrak pohon. Kepala papa berdarah. Begitu juga dengan hidungku. Aku
mimisan.
Setelah itu
aku nggak tau apa yang terjadi, tetapi aku sudah berada di rumah sakit dengan
Reno yang duduk di sampingku.
Aku terkaget,
dan segera berdiri dari ranjangku. Mengusap wajahku, “Reno?? Kok kamu ada
disini?” tanyaku.
“Syukurlah
kamu sudah sadar, kalau begitu aku pulang dulu ya!” jawab Reno.
“Loh Ren!
Kamu belum jawab pertanyaanku,” seruku.
Tapi dia
tetap meninggalkanku dan sebelum ia menutup pintu kamar rumah sakit ku ia
tersenyum kecil.
Reno berjalan
melewati jembatan dan berhenti sejenak. Kemudian ia melemparkan kapal-kapalan
dari kertas ke sungai itu. Kemudian meninggalkan jembatan tersebut untuk segera
pulang.
Tak disangka,
Salsa menemukan kapal tersebut, lalu mengambilnya. Dan membukanya menjadi selembar
kertas berisi tulisan.
Dear
Nabila,
Cepet sembuh ya! aku menunggumu
untuk kembali ke sekolah. Dan aku beritau ke kamu kalau aku sudah putus sama
Fika sejak aku tiba-tiba memanggilmu lalu ketika kamu tanya apa, aku menggeleng
dan pergi meninggalkanmu. Aku nggak tau kenapa, akhir-akhir ini aku sering
memikirkanmu. Salsa cerita sama aku, katanya kamu nangis gara-gara aku jadian
sama Fika ya? aku minta maaf soal itu,
Nab!
Siapapun yang menemukan surat
ini, kumohon jangan beritau ke Nabila. Makasih. RENO.
“Bener kan
dugaanku.” Gumam Salsa setelah membaca surat itu.
Keesokan
harinya aku mulai masuk sekolah. Dan semua anak di kelas menyambutku dengan
gembira. “Selamat datang kembali di sekolah, Nabila!” ujar Salsa.
Aku
tersenyum.
“Woy, buat
apa sih ini ? nggak guna!” Sahut Fika sinis. “Eh, ntar malem aku ngadain pesta
prom night. Pada dateng ya! harus pake gaun buat yang cewek, yang cowok
terserah.” Lanjut Fika.
“Prom night?”
gumamku.
Reno tanya ke
aku lewat secarik surat. Kamu datang? Lalu aku membalas, kayaknya enggak, aku ada acara malam ini. Tak lama kemudian ada
balasan lagi dari Reno. Wish you were! .
maksudnya apa? Kemudian aku membuka buku laguku yang paling akhir, dan aku
melihat ada tulisan I LOVE YOU, RENO
. sepertinya aku harus berpikir lagi.
Jam
menunjukkan pukul 7 malam, dan pesta prom night nya sudah dimulai. Tapi aku
masih berpikir, aku datang apa enggak.
Aku pergi ke
pesta prom night, jam 7 lebih 15 menit. Dengan memakai gaun yang baru dibelikan
mama kemarin. Tanpa kacamata, dan rambut yang diurai.
Semua anak
yang ada di dalam, melihatku dengan melongo. Dan aku melihat Reno berjalan
kearahku sambil tersenyum. Tetapi Fika mencegahnya, “Dansa yuk, Ren!” ajak
Fika.
Aku terdiam
di depan mereka. “Maaf, aku dansa sama Nabila aja. Malam ini dia cantik
banget.” Jawab Reno. Kemudian ia berjalan kearahku sambil membuka secarik
kertas yang bertuliskan I LOVE YOU dan
menunjukkannya padaku. Kemudian aku membuka buku laguku yang paling belakang
dan menunjukkannya ke Reno. Kemudian Reno tersenyum dan aku pun sama. Kami pun
berdansa.
“Untuk
melengkapi acara malam ini, aku mau salah satu dari kalian untuk menyanyikan
sebuah lagu di sini. Aku panggil, Nabila.” Ujar Fika yang membuka acara.
Semuanya
terpusat ke arahku yang berdiri di samping Reno. “Aku?” tanyaku memastikan.
“Yap kamu!” jawab Fika.
Huh,.... kamu udah ngerebut Reno dari aku,
Nab! Kali ini aku akan membuatmu malu di depan semua anak. karena kamu nggak
bisa bernyanyi ataupun bermain alat musik. Pikir Fika.
“Harus
memainkan alat musik sendiri” tambah Fika.
Kemudian aku
mengambil gitar akustik listrik yang ada di samping panggung dan membawanya ke
atas panggung.
“Aku akan
menyanyikan sebuah lagu, karanganku sendiri. Lagu ini di tujukan untuk
seseorang.” Kataku memberitahukan sembari tersenyum ke arah Reno.
Aku mulai
melantunkan gitar dan mulai bernyanyi,
THANK
YOU FOR THIS BROKEN
When
first day of school
You
looked at me so serious
I
dont know why
But
my heart says that he’s awesome
And
then, when i know your attitude
I
resigned
Then
we were hostile
Fight
everyday, never stop
Debate
everyday, never stop
I
say we just a friend, you underestimate me
Because
i’m an autism girl, you think
Actually
i’m not, i’m normal
Like
other, like other.
One
day when i hear you love a cheer captain, my heart crying
My
heart crying, my piano crying, my guitar crying
My
heart broken, i say i hate today.
Actually
i love you, but i never know if i love you
Thanks
for this broken
I
say thank you.
End
Standing
applause dilakukan semua anak yang ada di acara ini. Dan aku benar-benar senang
hari ini. Mulai hari ini, nggak ada satu pun anak yang meremehkanku,
menghinaku, memanfaatkanku. Hanya saja, Fika masih benci sama aku.
THE END
No comments:
Post a Comment