ini cerita singkat banget.
"cahaya itu menerangiku sesaat. lalu dia pergi lagi." -Defha-
Defha. anak kelas 3 SMA. hari ini ada ujian praktek olahraga, yaitu lari keliling jalan merak- jalan bunga. sebanyak 10 kali. dan kira2 itu jaraknya 3 km. bayangkan? 3km di kali 10 = 30 km. bisa-bisa Defha pingsan. tapi tekad Defha benar-benar mengalahkan penyakitnya. tapi hanya untuk sesaat. Defha punya penyakit yang langka. tapi ada obatnya. yaitu saat Defha kecapekan, hidungnya akan mengeluarkan darah (mimisan). peraturan obatnya bukan sehari tiga kali atau sehari dua kali. tapi, obat itu harus diminum sesaat setelah Defha mimisan. dan itu bisa-bisa sehari 4-5 kali. tapi kalau nggak diminum, bisa-bisa Defha mengalami sesak nafas lalu pingsan, kalau tidak segera di tolong bisa mati.
Defha suka sama anak satu kelasnya. namanya Farel. ya, Farel. Defha tau kalau Farel itu suka sama Arin sejak kelas 1 SMA hingga sekarang. tapi Arin nggak pernah mau tau soal Fadel. Fadel punya penyakit asma yang selalu menghantui hidupnya. tapi dia nggak peduli soal itu. dia tetap terlihat sehat walaupun dia sakit.
Hari ini ujian praktek olahraga dilaksanakan, awalnya Defha terlihat baik-baik saja. tapi pada putaran terakhir, penyakitnya mulai kambuh , "Hosh-hosh-hosh" hidung Defha mulai mengeluarkan darah. dia berhenti sejenak bersandar di pohon terdekat. mengelap daerah sekitar hidungnya dengan tangan. lalu mencari-cari obat di saku celananya, "Obat? Obatku? dikelas! NO." awalnya dia berada di urutan tengah-tengah. namun akhirnya berada di paling akhir, paling akhir, akhir!
Disisi lain, penyakit Farel juga kambuh. tapi untung saat itu ia membawa obatnya. jadi dia nggak kesulitan mencari nafas lagi. kemudian ia kembali berlari hingga menemui Defha di tempat yang agak jauh dari tempat Defha berhenti sebelumnya. karena Defha melanjutkan larinya walaupun hidungnya penuh darah. "Loh? Defha? hidungmu kenapa? itu darahnya banyak." tanya Farel. seutas senyum terbentuk di muka Defha. "Aku nggak apa kok, Rel!" jawab Defha dengan nada sedikit tersendat2. "Oke kalau kamu gaapa. aku lanjut lari. da" Farel meninggal kan Defha begitu saja. tanpa ada tolehan lagi setelah ia berbicara dengan Defha. "Seandainya aku Arin, apa yang akan kamu lakukan? kamu pasti panik mencari pertolongan. tapi aku hanya Defha, temanmu yang benar-benar nggak guna" Pikir Defha sambil berlari kecil.
Pandangan Defha semakin lama semakin kabur. tapi untung dia sudah sampai di depan gerbang sekolah. sambil tersenyum lega, tapi sesaat kemudian ia mulai merasa terlalu lelah, hingga ia berfikir, "Farel, kalau aku boleh bilang, aku suka kamu. kalau aku masih ada waktu aku akan membantumu setulus hatiku. tapi kali ini beda. mungkin percakapan tadi mengakhiri semuanya. aku pergi dari sini , melihatmu untuk yang terakhir kalinya berdiri di depanku tapi tidak menghadapku, aku minta maaf jika aku punya salah. selamat tinggal, aku akan pergi, pergi untuk selamanya." . Blug!!! Defha terjatuh berbaring lemas di depan gerbang sekolah dengan hidung berlumuran darah. Farel berbalik badan. seketika ia menjadi bingung melihat Defha yang pingsan tak bergerak. lalu memanggil pak Are, sebagai guru olahraga mereka. "Pak! Defha pingsan! dan hidungnya berlumuran darah."
Pak Are, dan teman-teman lainnya panik. Farel, dengan perasaan campur aduk mengangkat Defha yang terbaring lemas dan membawanya segera ke rumah sakit dekat sekolah mereka bersama pak Are. sesampai dirumah sakit. pak Are menyuruh Farel untuk kembali ke sekolah. kemudian pak Are menelpon orang tua Defha. seketika itu Defha masuk ruang ICU. tetapi Farel keburu sampai di sekolah dan dia tidak mengetahui hal tersebut. Farel hanya berharap tidak terjadi apa-apa dengan Defha.
seharian penuh, Farel menggalau. dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. perasaannya campur aduk, sedih, marah karena dia tidak menolong Defha yang jelas-jelas terlihat sakit dan butuh pertolongan. dan satu rasa yang membuatnya semakin larut dalam kegalauannya. sebenarnya rasa ini sudah lama ada di hatinya. tapi dia tidak tahu jelas, perasaan itu bilang apa.
keesokan harinya, kebetulan hari ini hari Sabtu. jadi ada kesempatan untuk Farel menjenguk Defha. dia pergi ke rumah sakit dekat sekolahan sendirian dengan menaiki skateboard kesayangannya. sesampainya di rumah sakit, ia bertanya kepada mbak-mbak yang ada di tempat recepsionis untuk bertanya soal Defha. "Mbak, permisi mau tanya. anak yang bernama Defha Alyssya ada diruang berapa ya?"
"Sebentar, Defha Alyssya ya?" mbak itu mencari nama Defha di data komputernya, setelah menemukan nama itu ia langsung bilang kepada Farel. "Defha Alyssya, setelah menjalani pemeriksaan ia masuk ke ruang ICU. coba cari di sana." Farel berterima kasih kepada mbak recepsionis itu, lalu bergegas keruang ICU. bertanya kepada suster yang ada di depan ruang itu, "Mbak, di dalam ada anak yang bernama Defha Alyssya?" tanya Farel. "Maaf dik, kemarin baru saja ia dibawa pulang sama orang tuanya karena dia telah tiada. sesaat setelah dia masuk ruang ICU." setelah mendengar perkataan seperti itu, Farel langsung berlari kebingungan hingga akhirnya duduk sebentar di kursi rumah sakit.
matanya penuh dengan aliran air mata, sedih dan tidak percaya. dia menyesal karena belum bilang soal perasaannya kepada Defha, ia terlarut dalam kesedihannya. "Def, aku minta maaf soal semuanya. sebenarnya aku udah lama suka sama kamu. tapi aku bingung gimana aku harus ngungkapinnya. masalah aku yang cuek sama kamu itu sebenarnya aku malu buat bicara sama kamu. jadi aku berusaha menutupi kalau aku suka sama kamu. aku minta maaf banget. aku nggak bisa bilang ini disaat percakapan terakhir kita kemarin. aku nyesel!" ujar Farel, seakan didepannya ada Defha yang sedang mendengarkannya.
***********
"Hai. kamu serius bilang kayak gitu? aku nggak nyangka, cius!" sahut Defha yang ternyata masih hidup. Farel menoleh kearah Defha. ia berbisik, "Defha?"
"Hey! kamu pikir aku sudah mati gitu? kamu pingin aku mati ya?" ujar Defha. lalu ia melihat Farel yang menatapnya serius dengan ekspresi bingung dan nggak percaya. lalu meyakinkan. "Kalau kamu datang ke ruang ICU, dan tanya namaku, pasti susternya bilang nama itu telah tiada. kalau kamu salah ngeja nama belakangku dengan ALISHA. bukan Alisia. pasti susternya bilang gitu. kebetulan kemarin di ruang ICU ada 2 orang yang namanya sama. aku dan Defha Alisha. tapi Defha Alisha meninggal karena serangan jantung mendadak. dan kamu tau? dia itu sudah agak tua. dan bukan anak remaja berumur 18 tahun. jadi kamu jangan sedih." jelas Defha.
Dengan setengah tidak percaya, Farel berlari kearah Defha lalu memeluk Defha erat. "Aku minta maaf soal semuanya. aku minta maaf. aku nyesel kemarin nggak mbantu kamu, Def!" kata Farel menyesal. "Kamu mau kan jadi pacar aku?" tanya Farel tiba-tiba, sambil melepaskan pelukannya. lalu Defha mengangguk dengan senyuman yang benar benar lebar yang pernah ia buat. akhirnya, mulai hari ini, mereka berpacaran.
*THE END*
"Kamu akan selalu menjadi cahaya di hidupku" -Farel-
No comments:
Post a Comment